TULUNGAGUNG – Peristiwa kebakaran kembali menimpa sektor peternakan di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Sebuah kandang ayam pedaging milik Ageng yang berlokasi di Desa Siyotobagus, Kecamatan Besuki, dilalap api pada Sabtu (24/01/2026) dini hari sekitar pukul 03.40 WIB. Kebakaran ini mengakibatkan kerugian besar, terutama karena sebagian besar ayam di dalam kandang tersebut tengah memasuki masa panen.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, api dengan cepat menjalar ke seluruh bagian kandang. Material bangunan yang mudah terbakar membuat si jago merah sulit dikendalikan dalam waktu singkat. Sekitar 4.000 ekor ayam pedaging berada di dalam kandang saat kebakaran terjadi, dan diperkirakan sekitar 70 persen di antaranya mati akibat terbakar atau terpapar panas ekstrem.
Kepala Seksi Penyelamatan dan Evakuasi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Tulungagung, Iwan Supriyono, menjelaskan bahwa sumber api diduga berasal dari instalasi listrik yang digunakan untuk menunjang operasional kandang.
“Api diperkirakan berasal dari colokan listrik untuk kipas kandang. Bagian ini terlihat paling parah,” ujar Kasi Penyelamatan dan Evakuasi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Tulungagung, Iwan Supriyono.
Menurut Iwan, konstruksi kandang ayam pedaging pada umumnya memang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran. Lantai kandang dibuat berpanggung dan dilapisi sekam padi yang berfungsi menjaga kehangatan ayam. Sementara itu, dinding kandang terbuat dari bambu, dan pada bagian atas lantai dipasang plafon dari bahan daduk.
Ia menduga, korsleting listrik pada stop kontak kipas angin memicu percikan api yang kemudian menyambar plafon. Api dengan cepat membesar karena material daduk sangat mudah terbakar.
“Kalau biasanya kan atapnya daduk, ini daduk dipakai untuk plafon. Sementara atapnya dari lembaran asbes,” tuturnya.
Api yang berasal dari plafon kemudian merambat ke seluruh bagian kandang. Daduk yang terbakar runtuh ke bawah dan menyulut sekam padi yang melapisi lantai kandang. Kondisi tersebut menyebabkan api berkembang secara vertikal, membakar bagian atas dan bawah kandang secara bersamaan.
“Jadi di atas plafonnya terbakar, sementara di lantai juga terbakar. Sebagian ayam sempat diselamatkan,” sambung Iwan.
Meski sejumlah ayam berhasil dievakuasi, sebagian besar ternak tidak dapat diselamatkan karena api menyebar terlalu cepat. Ayam-ayam tersebut sejatinya hanya tinggal menunggu waktu sekitar satu minggu lagi untuk dipanen, sehingga kerugian yang dialami pemilik kandang cukup signifikan.
Nilai kerugian akibat kebakaran ini diperkirakan mencapai Rp 70 juta. Selain kematian ternak, kerusakan juga terjadi pada bangunan kandang yang berukuran cukup besar dan berbentuk huruf L.
“Kandangnya cukup besar, berbentuk L. Sebagian ayam baru dipanen sebelum terjadi kebakaran ini,” jelas Iwan.
Peristiwa ini menambah daftar kebakaran kandang ayam di wilayah Tulungagung dalam waktu yang relatif berdekatan. Sebelumnya, kebakaran serupa juga terjadi di Desa Pakisrejo, Kecamatan Rejotangan, pada Sabtu (10/01/2026) malam. Saat itu, api dipicu oleh alat penghangat kandang berbahan bakar gas elpiji.
Dalam kejadian tersebut, sekitar 5.000 ekor ayam yang baru dua hari dimasukkan ke kandang turut terbakar. Total kerugian, termasuk kerusakan kandang dan seluruh isinya, ditaksir mencapai Rp 150 juta. Rentetan kejadian ini menjadi peringatan bagi peternak agar lebih waspada terhadap potensi kebakaran, khususnya yang bersumber dari instalasi listrik dan alat penghangat kandang. []
Diyan Febriana Citra.

