MAKASSAR – Penutupan Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, menjadi penanda berakhirnya satu fase penting dalam penanganan tragedi udara yang menyita perhatian publik nasional. Setelah tujuh hari penuh perjuangan menghadapi medan ekstrem, cuaca tidak menentu, dan keterbatasan akses, seluruh rangkaian operasi dinyatakan resmi selesai pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Prosesi penutupan operasi ditandai dengan doa bersama yang digelar oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama seluruh unsur SAR gabungan. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan sarat makna, tidak hanya sebagai penutup tugas lapangan, tetapi juga sebagai wujud penghormatan terakhir bagi para korban serta refleksi atas upaya kemanusiaan yang telah dilakukan secara maksimal sejak insiden pesawat dilaporkan jatuh pada 17 Januari 2026 lalu.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, dalam sambutannya menekankan bahwa operasi pencarian ini melampaui sekadar prosedur teknis. Menurutnya, setiap personel yang terlibat telah bekerja dengan panggilan nurani, mengutamakan nilai kemanusiaan di atas segala keterbatasan yang ada.
“Tugas ini adalah tugas kemanusiaan, dan apa yang telah dilakukan di lapangan tidak bisa diukur dengan angka,” tegas Mohammad Syafii.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat, mulai dari personel Basarnas, TNI, Polri, relawan, hingga masyarakat setempat yang turut memberikan dukungan logistik dan informasi. Syafii juga menyoroti peran doa keluarga korban yang menjadi penguat moral bagi tim di lapangan selama operasi berlangsung.
Menurutnya, tantangan utama dalam pencarian di Pegunungan Bulusaraung adalah kondisi geografis yang terjal, vegetasi lebat, serta perubahan cuaca yang cepat. Namun, seluruh hambatan tersebut dapat dihadapi berkat soliditas dan koordinasi yang terbangun antarlembaga.
“Semua bergerak sebagai satu tim, satu tujuan, dan satu rasa kemanusiaan. Tidak ada satu pun unsur yang bekerja sendiri,” lanjut Syafii.
Soliditas tim gabungan dinilai sebagai kunci utama keberhasilan operasi ini. Personel dari unsur darat, udara, dan laut saling melengkapi dalam menjalankan tugas masing-masing. Helikopter digunakan untuk pemantauan udara dan distribusi logistik, sementara tim darat menyusuri jalur ekstrem untuk mengevakuasi korban dan bagian pesawat.
Basarnas juga memberikan apresiasi khusus kepada relawan lokal yang memahami karakter wilayah Bulusaraung. Pengetahuan mereka mengenai jalur pendakian dan kondisi alam setempat sangat membantu mempercepat proses pencarian dan evakuasi.
Dengan ditutupnya operasi ini, seluruh personel SAR akan kembali ke satuan masing-masing. Meski demikian, Syafii berharap nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan kemanusiaan yang terbangun selama operasi tetap terjaga dan menjadi bekal dalam penanganan bencana di masa mendatang.
Penutupan Operasi SAR ATR 42-500 bukan hanya menandai berakhirnya sebuah misi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di balik setiap tragedi, ada dedikasi dan pengorbanan banyak pihak demi memastikan negara hadir bagi warganya dalam situasi paling sulit. []
Diyan Febriana Citra.

