BANGKALAN – Insiden ambruknya plafon ruang kelas kembali menjadi pengingat pentingnya keselamatan fasilitas pendidikan. Kali ini, kejadian terjadi di SDN Kramat 1, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, pada Rabu (28/01/2026) pagi, saat aktivitas belajar mengajar baru saja dimulai. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa tersebut sempat memicu kepanikan di lingkungan sekolah.
Plafon yang ambruk berada di ruang kelas 1, tepat ketika para siswa baru memasuki ruangan untuk memulai pelajaran. Kepala SDN Kramat 1, Sri Handayani, menjelaskan bahwa tanda-tanda kerusakan sudah terdengar sebelum plafon runtuh. Guru kelas yang berada di lokasi segera bertindak cepat demi menghindari risiko yang lebih besar.
“Ada bunyi krek..krek… begitu, lalu guru kelas 1 langsung minta siswa semuanya keluar,” ujar Sri Handayani.
Respons cepat guru tersebut membuat seluruh siswa berhasil keluar kelas sebelum plafon benar-benar runtuh. Beberapa anak bahkan meninggalkan tas dan perlengkapan belajar mereka di dalam ruangan karena situasi yang mendadak. Tak lama setelah suara retakan terdengar, plafon bagian atas kelas ambruk. Runtuhan tidak hanya terjadi sekali, melainkan berulang hingga tiga kali.
“Saya dengar dari ruang kantor itu langsung kaget. Saya langsung keluar dan melihat plafon sudah runtuh,” imbuhnya.
Begitu mengetahui kejadian tersebut, pihak sekolah segera memastikan kondisi seluruh siswa. Hasil pengecekan menunjukkan tidak ada korban luka maupun cedera akibat insiden tersebut. Sri Handayani mengungkapkan rasa syukurnya atas keselamatan anak didik dan para guru.
“Alhamdulillah, siswa tidak ada yang menjadi korban,” ungkapnya.
Usai kejadian, para guru berinisiatif mengambil barang-barang siswa yang masih tertinggal di dalam kelas, termasuk tas, alat tulis, serta perlengkapan sekolah lainnya. Beberapa fasilitas kelas seperti kipas angin juga diamankan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Demi kelangsungan kegiatan belajar mengajar, pihak sekolah memutuskan memindahkan sementara siswa kelas 1 ke ruang mushala.
“Setelah itu, siswa kelas 1 yang jumlahnya 11 orang ini kami pindahkan belajar di ruang mushala,” jelas Sri.
Menurut Sri Handayani, kondisi bangunan sekolah yang sudah berusia cukup lama menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan. Ia menduga cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang yang terjadi sehari sebelumnya membuat plafon menjadi lembab dan kehilangan kekuatannya.
“Mungkin karena lembab itu, makanya ambruk. Apalagi ini bangunan sudah sekitar 10 sampai 15 tahunan belum diperbaiki,” jelasnya.
Pihak sekolah telah melaporkan kejadian tersebut kepada dinas terkait dan berharap ada tindak lanjut berupa perbaikan menyeluruh, khususnya pada deretan ruang kelas yang kondisinya dinilai serupa. Kekhawatiran muncul apabila kerusakan tidak segera ditangani dan cuaca buruk kembali terjadi.
“Sudah kami laporkan ke dinas. Kami berharap satu deret ini bisa diperbaiki. Karena kami juga khawatir jika ada angin dan hujan lagi, kerusakan menjalar,” pungkasnya.
Insiden ini menjadi catatan penting mengenai perlunya perawatan rutin bangunan sekolah demi menjamin keselamatan siswa dan tenaga pendidik. Selain upaya penanganan darurat, evaluasi menyeluruh terhadap kondisi infrastruktur pendidikan dinilai krusial agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang. []
Diyan Febriana Citra.

