LUMAJANG – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan pada Kamis (29/01/2026) pagi, menandai dinamika alam yang terus berlangsung di kawasan gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Erupsi terbaru ini menjadi pengingat bagi masyarakat dan pemerintah daerah akan pentingnya kewaspadaan serta kesiapsiagaan terhadap potensi bencana susulan, mengingat status aktivitas Semeru masih berada pada level waspada tinggi.
Letusan terjadi pada Kamis (pagi) dan menghasilkan kolom abu yang cukup signifikan. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, menyampaikan laporan resmi mengenai peristiwa tersebut.
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada Kamis pukul 07.20 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Mukdas Sofian dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, Kamis (29/01/2026).
Secara visual, kolom abu terpantau berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang mengarah ke sektor tenggara. Aktivitas vulkanik tersebut juga terekam secara instrumental melalui seismograf. Mukdas menjelaskan bahwa getaran erupsi memiliki karakteristik yang cukup kuat.
“Menurutnya, kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah tenggara, kemudian erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 115 detik.”
Aktivitas ini bukanlah satu-satunya letusan yang terjadi dalam hari yang sama. Sebelumnya, Gunung Semeru juga mengalami erupsi pada dini hari.
“Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah tenggara. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 20 mm dan durasi 123 detik,” tuturnya.
Rangkaian erupsi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas magma di dalam tubuh gunung masih berlangsung dinamis. Dalam konteks mitigasi bencana, kondisi ini menuntut kesiapan aparat dan masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana.
Gunung Semeru saat ini berada pada status aktivitas vulkanik Level III (Siaga). Dengan status tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi keselamatan yang wajib dipatuhi masyarakat. Mukdas menjelaskan bahwa pembatasan aktivitas diberlakukan secara ketat di beberapa zona berisiko tinggi.
“Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” katanya.
Selain itu, kawasan sepanjang Besuk Kobokan menjadi perhatian utama karena berpotensi terdampak awan panas dan aliran lahar. Di sektor tenggara, masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius 13 kilometer dari pusat erupsi. Di luar jarak tersebut, aktivitas juga dibatasi pada sempadan sungai sejauh 500 meter karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
Masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, serta aliran lahar di sejumlah alur sungai dan lembah yang berhulu di Gunung Semeru. Daerah-daerah seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat disebut sebagai wilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi.
Rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa Gunung Semeru masih berada dalam fase aktivitas yang aktif dan dinamis. Oleh karena itu, disiplin terhadap rekomendasi teknis PVMBG serta koordinasi antara pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko bencana serta melindungi keselamatan warga di kawasan sekitar gunung api. []
Diyan Febriana Citra.

