Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Barat Daya Tahuna

Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Barat Daya Tahuna

Bagikan:

TAHUNA – Aktivitas seismik kembali terjadi di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,9 mengguncang kawasan barat daya Tahuna pada Sabtu (31/01/2026) pagi, tepatnya pukul 07.36 WIB. Meski sempat dirasakan warga di sejumlah wilayah, gempa tersebut tidak menimbulkan kepanikan massal dan hingga kini tidak dilaporkan adanya dampak kerusakan maupun korban jiwa.

Berdasarkan data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada pada koordinat 3,49 Lintang Utara dan 124,36 Bujur Timur. Lokasi episentrum tercatat sekitar 126 kilometer di barat daya Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Gempa tersebut terjadi pada kedalaman 324 kilometer, yang tergolong sebagai gempa bumi dalam.

Karakteristik gempa dalam membuat dampaknya relatif lebih kecil di permukaan, meskipun getarannya masih dapat dirasakan oleh sebagian masyarakat. BMKG menjelaskan bahwa gempa dengan kedalaman ratusan kilometer umumnya tidak menimbulkan kerusakan signifikan pada bangunan karena energi getarannya sudah melemah sebelum mencapai permukaan bumi.

BMKG juga menegaskan bahwa gempa ini tidak memiliki potensi tsunami. Hal ini disebabkan oleh kedalaman sumber gempa yang sangat dalam serta mekanisme pergerakan lempeng yang tidak memicu pergeseran dasar laut secara signifikan.

Hingga laporan ini disusun, belum ada informasi resmi mengenai kerusakan infrastruktur, rumah warga, maupun fasilitas umum. Aktivitas masyarakat di Tahuna dan wilayah sekitarnya tetap berlangsung normal. Aparat setempat juga belum menerima laporan terkait dampak lanjutan akibat gempa tersebut.

Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan, meskipun peluangnya kecil. Warga diminta untuk tetap tenang, tidak panik, dan tidak menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga juga diharapkan mengikuti perkembangan informasi resmi yang disampaikan oleh BMKG melalui kanal komunikasi terpercaya.

Imbauan tersebut menjadi penting mengingat informasi keliru atau hoaks terkait gempa sering kali memicu kepanikan yang justru berpotensi menimbulkan risiko baru di tengah masyarakat. Oleh karena itu, publik diharapkan hanya mengakses informasi kebencanaan dari sumber resmi seperti BMKG, pemerintah daerah, atau lembaga penanggulangan bencana.

Kawasan Sulawesi Utara sendiri memang dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas tektonik yang cukup tinggi karena berada di jalur pertemuan beberapa lempeng besar dunia. Kondisi geografis ini membuat gempa bumi menjadi fenomena alam yang relatif sering terjadi, baik dengan kekuatan kecil maupun sedang.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau perkembangan situasi pascagempa, termasuk memastikan kesiapsiagaan masyarakat dan kesiapan jalur komunikasi kebencanaan. Sosialisasi mitigasi bencana juga terus dilakukan agar masyarakat memiliki pemahaman yang baik dalam menghadapi potensi gempa bumi, mulai dari langkah penyelamatan diri hingga prosedur evakuasi yang benar.

Dengan kondisi terkini yang relatif aman, masyarakat diimbau untuk tetap beraktivitas secara normal, sembari tetap waspada dan siaga terhadap potensi bencana alam lainnya yang dapat terjadi sewaktu-waktu. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews