BANDUNG – Upaya pencarian korban bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, masih terus dilakukan secara intensif oleh Tim Search and Rescue (SAR) Gabungan. Memasuki hari kedelapan operasi pencarian, tim kembali berhasil mengevakuasi empat kantong jenazah korban dari sejumlah titik pencarian pada Sabtu (31/01/2026) pagi.
Proses evakuasi tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras tim gabungan belum berhenti, meskipun medan yang dihadapi semakin sulit akibat kondisi tanah labil, cuaca yang tidak menentu, serta ketebalan material longsor yang menimbun area permukiman. Penemuan terbaru ini memperlihatkan bahwa proses pencarian masih terus membuahkan hasil, sekaligus mempertegas komitmen negara dalam menemukan seluruh korban yang masih tertimbun material longsor.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menjelaskan bahwa empat kantong jenazah tersebut ditemukan di lokasi pencarian yang berbeda dalam waktu yang relatif singkat.
“Penemuan pertama terjadi pada pukul 09.29 WIB di Worksite B2 sektor B. Selanjutnya pada pukul 10.23 WIB tim mengevakuasi kantong jenazah di Worksite A1, dan pada pukul 10.58 dan 11.19 WIB kembali ditemukan dua kantong jenazah di Worksite A2,” katanya.
Dengan tambahan temuan tersebut, jumlah kantong jenazah yang telah berhasil dievakuasi hingga Sabtu pukul 11.30 WIB mencapai 64 kantong. Sementara itu, jumlah korban yang masih dinyatakan dalam pencarian atau data sementara (DP) diperkirakan masih sekitar 16 jiwa.
Ade menjelaskan bahwa operasi SAR pada hari kedelapan tetap dilakukan dengan pola kerja terstruktur dan sistematis. Personel dibagi ke dalam tiga sektor utama, yakni sektor A, sektor B, dan sektor C. Metode pencarian dilakukan secara terpadu dengan memadukan teknik manual, penggunaan anjing pelacak (K9), serta dukungan alat berat untuk membuka akses dan menyingkirkan material longsor.
“Sebanyak 3.675 personel gabungan dikerahkan dalam operasi ini, dengan dukungan 17 unit alat berat dan 22 ekor anjing pelacak K9 yang disebar di seluruh sektor pencarian,” ujarnya.
Besarnya jumlah personel dan sarana yang dikerahkan mencerminkan skala besar operasi kemanusiaan ini. Selain unsur SAR, operasi juga melibatkan unsur TNI, Polri, relawan, pemerintah daerah, serta berbagai instansi terkait lainnya. Seluruh pihak bekerja dalam satu komando demi mempercepat proses pencarian dan evakuasi korban.
Di sisi lain, proses identifikasi korban juga terus berjalan. Hingga saat ini, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri telah berhasil mengidentifikasi 49 kantong jenazah. Dari total kantong jenazah yang telah masuk proses identifikasi, sebanyak 13 lainnya masih berada dalam tahap pemeriksaan lanjutan untuk memastikan identitas korban secara akurat.
Proses identifikasi ini menjadi bagian penting dari operasi kemanusiaan, karena menyangkut kepastian bagi keluarga korban. Pemeriksaan dilakukan secara hati-hati dengan pendekatan forensik guna memastikan keakuratan data dan menghindari kesalahan identifikasi.
Ade menegaskan bahwa operasi pencarian akan terus dilanjutkan sesuai dengan kebijakan masa tanggap darurat yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah.
“Sesuai arahan Kepala Basarnas, operasi pencarian akan terus dilanjutkan dengan menyesuaikan masa tanggap darurat yang telah ditetapkan oleh Bupati Bandung Barat hingga 6 Februari 2026,” katanya.
Keberlanjutan operasi ini diharapkan dapat menemukan seluruh korban yang masih tertimbun serta memberikan kepastian bagi keluarga yang hingga kini masih menanti kabar anggota keluarganya. Selain itu, operasi ini juga menjadi refleksi penting tentang pentingnya mitigasi bencana, tata kelola lingkungan, dan sistem peringatan dini di wilayah rawan longsor, agar tragedi serupa dapat dicegah di masa mendatang. []
Diyan Febriana Citra.

