KUDUS – Penanganan kasus dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa siswa SMAN 2 Kudus menunjukkan perkembangan positif. Mayoritas siswa yang sebelumnya harus mendapatkan perawatan medis kini telah dinyatakan pulih dan diperbolehkan kembali ke rumah, seiring membaiknya kondisi kesehatan mereka setelah mendapatkan penanganan intensif dari tim medis di berbagai rumah sakit rujukan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kudus mencatat bahwa jumlah pasien rawat inap terus mengalami penurunan signifikan. Dari ratusan siswa yang sempat mengalami keluhan kesehatan usai menyantap menu MBG, kini hanya tersisa beberapa siswa yang masih dalam pengawasan medis.
Sekretaris Dinkes Kabupaten Kudus, Nuryanto, menyampaikan bahwa sebagian besar siswa telah sembuh, sementara hanya segelintir yang masih memerlukan perawatan lanjutan di rumah sakit.
“Hingga Minggu (01/02/2026) sore jumlah pasien yang masih menjalani perawatan ada lima anak. Sedangkan lainnya sudah sembuh dan diperbolehkan pulang. Hari ini dimungkinkan juga ada perubahan data,” kata Sekretaris Dinkes Kabupaten Kudus Nuryanto di Kudus, Senin (02/02/2026).
Lima siswa yang masih dirawat tersebut tersebar di sejumlah rumah sakit di wilayah Kudus dan sekitarnya. Dua siswa dirawat di RSUD Loekmono Hadi Kudus, satu siswa di RS Mardi Rahayu, satu siswa di RS Islam Sunan Kudus, serta satu siswa lainnya di RS Sarkies Aisyiyah.
Sebelumnya, insiden dugaan keracunan ini tercatat melibatkan 131 siswa SMAN 2 Kudus pada Kamis (29/01/2026). Para siswa mengalami keluhan seperti mual, muntah, dan pusing kepala setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan di sekolah. Sebagian besar siswa sempat mendapatkan perawatan medis, baik rawat jalan maupun rawat inap, di sejumlah rumah sakit rujukan.
Rumah sakit yang menangani para siswa tersebut antara lain RSUD Loekmono Hadi Kudus, RS Mardi Rahayu, RS Kartika, RS Kumala Siwi, RS Islam Sunan Kudus, RS Aisyiyah, dan RS Sarkies Aisyiyah. Proses penanganan dilakukan secara cepat dan terkoordinasi dengan melibatkan tenaga medis, pemerintah daerah, serta aparat keamanan.
Direktur RS Islam Sunan Kudus, Ahmad Syaifuddin, membenarkan bahwa jumlah pasien rawat inap di rumah sakit tersebut terus berkurang.
“Awalnya ada tujuh pasien dari SMAN 2 Kudus yang dirawat inap di RSI Sunan Kudus, sekarang tersisa satu pasien. Namun untuk hari ini (02/02/2026) perlu dimutakhirkan datanya apakah masih ada sudah pulang,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan pihak RS Mardi Rahayu Kudus. Direktur Utama RS Mardi Rahayu, Pujianto, melalui Bagian Humas Dewi menjelaskan bahwa sebagian besar pasien telah menunjukkan kondisi yang stabil dan diperbolehkan melanjutkan perawatan di rumah.
Di RSUD Loekmono Hadi Kudus, jumlah pasien juga mengalami penurunan drastis. Dari sebelumnya 18 siswa yang dirawat, kini tersisa satu siswa yang masih menjalani perawatan hingga Senin (02/02/2026).
Secara keseluruhan, dari lebih dari 100 siswa yang sempat dirujuk ke rumah sakit, tercatat 47 siswa menjalani rawat inap. Namun, dengan penanganan medis yang intensif dan cepat, kondisi mereka berangsur membaik dan secara bertahap diperbolehkan pulang.
Dalam penanganan awal kejadian, Pemerintah Kabupaten Kudus bersama TNI dan Polri bergerak cepat dengan mengerahkan armada ambulans untuk mengevakuasi siswa dari lingkungan sekolah ke rumah sakit terdekat. Langkah cepat tersebut dinilai mampu meminimalkan dampak kesehatan yang lebih serius serta memastikan seluruh siswa mendapatkan pertolongan medis secara optimal.
Kasus ini kini menjadi bahan evaluasi serius bagi pelaksanaan program MBG, khususnya terkait aspek higienitas, distribusi makanan, dan pengawasan mutu, agar kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari. []
Diyan Febriana Citra.

