ACEH – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 3,5 mengguncang wilayah Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, pada Selasa (10/02/2026) pagi. Peristiwa ini terjadi saat sebagian warga masih berada dalam aktivitas awal hari, sehingga getaran sempat dirasakan oleh masyarakat di sejumlah titik permukiman.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut terjadi sekitar pukul 05.37 WIB dengan pusat gempa berada di wilayah daratan. Episentrum gempa terdeteksi berada sekitar 28 kilometer arah barat laut Kabupaten Bener Meriah dengan kedalaman sangat dangkal, yakni 4 kilometer.
BMKG melalui akun resmi media sosial X @infoBMKG menyampaikan informasi teknis gempa secara terbuka kepada publik. Dalam unggahannya, BMKG menulis:
“(UPDATE) Mag:3.5, 10-Feb-26 05:37:10 WIB, Lok:4.95 LU, 96.75 BT (Pusat gempa berada di darat 28 km Barat Laut Kab. Bener Meriah), kedlmn:4 Km. Dirasakan (MMI) II-III Bener Meriah,” tulis akun medsos X @infoBMKG.
Skala intensitas gempa yang dirasakan berada pada level II–III MMI. Artinya, getaran dirasakan oleh sebagian warga, terutama yang berada di dalam rumah, namun tidak sampai menyebabkan kepanikan massal atau kerusakan besar pada bangunan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi terkait kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat gempa tersebut. Aparat setempat serta pihak terkait juga belum menerima laporan adanya bangunan roboh, keretakan rumah warga, maupun gangguan fasilitas umum.
Meski tergolong gempa berkekuatan kecil, pihak berwenang tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Hal ini mengingat wilayah Aceh termasuk kawasan rawan aktivitas seismik karena berada di jalur pertemuan lempeng tektonik aktif. Potensi gempa susulan, meskipun kecil, tetap perlu diantisipasi oleh warga.
BMKG juga mengingatkan bahwa informasi awal gempa masih bersifat sementara dan dapat mengalami pembaruan seiring masuknya data tambahan dari sensor seismik. Hal tersebut disampaikan dalam keterangan resmi yang menyertai laporan gempa.
“Disclaimer: Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,” tulis @infoBMKG.
Pola penyampaian informasi cepat ini bertujuan agar masyarakat segera mengetahui adanya aktivitas gempa dan dapat mengambil langkah antisipatif, seperti tetap tenang, menjauhi bangunan retak, serta memperhatikan informasi resmi dari lembaga berwenang.
Dalam konteks mitigasi bencana, peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi gempa bumi, khususnya di wilayah-wilayah rawan gempa seperti Aceh. Edukasi kebencanaan, jalur evakuasi, serta kesiapan keluarga menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko ketika bencana terjadi.
Masyarakat di Kabupaten Bener Meriah dan sekitarnya diimbau untuk tetap tenang, tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta terus memantau perkembangan informasi dari BMKG dan instansi resmi lainnya. []
Diyan Febriana Citra.

