PENAJAM – Penemuan seorang pria lanjut usia yang meninggal dunia di sebuah pondok perkebunan sawit menggegerkan warga di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara. Peristiwa tersebut terjadi di RT 06 Kelurahan Gunung Seteleng, Kecamatan Penajam, Jumat (20/02/2026) sore, sekitar pukul 15.00 WITA. Korban diketahui berinisial W (75), yang selama ini tinggal seorang diri di pondok sederhana di area perkebunan.
Peristiwa ini pertama kali terungkap ketika adik korban, T, datang berkunjung ke pondok tersebut. Kedatangan T dilakukan seperti biasanya untuk memastikan kondisi sang kakak. Namun, setibanya di lokasi, T tidak mendapatkan respons saat memanggil korban dari luar pondok.
Merasa curiga, T kemudian membuka pintu pondok. Saat itulah korban ditemukan telah tergeletak dalam kondisi tidak bernyawa di dalam bangunan tersebut. Temuan itu membuat T segera meminta bantuan warga sekitar dan melaporkannya kepada pihak keluarga serta aparat setempat.
Kapolsek Sepaku, Syarifuddin, membenarkan adanya penemuan jenazah lansia tersebut. Ia menjelaskan bahwa laporan diterima tidak lama setelah korban ditemukan oleh pihak keluarga.
“Setelah pintu dibuka, W ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia di dalam pondok,” ujar Kapolsek Sepaku Iptu Syarifuddin saat dikonfirmasi via WhatsApp, Sabtu (21/02/2026) pagi.
Menindaklanjuti laporan tersebut, personel kepolisian mendatangi lokasi kejadian yang berada di Jalan Kapo Gang AMD RT 006, Kelurahan Gunung Seteleng. Polisi melakukan pengecekan awal di tempat kejadian perkara sekaligus memastikan tidak ada unsur kekerasan yang mencurigakan.
Syarifuddin menyampaikan bahwa pihak keluarga selanjutnya meminta bantuan aparat untuk memindahkan jenazah ke rumah duka. Permintaan tersebut disampaikan mengingat kondisi lokasi yang berada di area perkebunan dengan akses terbatas.
“Pelapor meminta bantuan untuk membawa korban ke rumah duka di Jalan Suka Maju Nomor 30, Kelurahan Gunung Seteleng,” kata Syarifuddin.
Dalam proses penanganan, pihak kepolisian sempat menghubungi Puskesmas Kecamatan Penajam guna melakukan pemeriksaan awal terhadap jenazah. Namun, setelah dilakukan koordinasi, petugas medis menyarankan agar evakuasi dilakukan dengan bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah karena kondisi jenazah yang tidak memungkinkan untuk dievakuasi secara manual.
Kepala BPBD PPU, Kuncoro, menjelaskan bahwa pihaknya segera menurunkan personel setelah menerima permintaan bantuan dari kepolisian dan keluarga korban. Proses evakuasi dilakukan dengan melibatkan warga setempat untuk mempercepat pemindahan jenazah.
“Kami bersama warga melakukan evakuasi jenazah dan membawa almarhum ke rumah duka untuk disemayamkan,” tutup Kuncoro.
Hingga saat ini, pihak kepolisian menyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Dugaan sementara, korban meninggal dunia karena faktor usia dan kondisi kesehatan. Meski demikian, aparat tetap melakukan langkah-langkah prosedural untuk memastikan penyebab kematian.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya perhatian terhadap warga lanjut usia, terutama mereka yang tinggal sendiri di lokasi terpencil. Aparat dan masyarakat diharapkan dapat terus meningkatkan kepedulian sosial agar kejadian serupa dapat lebih cepat terdeteksi dan ditangani. []
Diyan Febriana Citra.

