Gunung Merapi Kembali Aktif, Puluhan Guguran Lava Terpantau

Gunung Merapi Kembali Aktif, Puluhan Guguran Lava Terpantau

Bagikan:

SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai. Dalam rentang waktu enam jam, yakni sejak pukul 00.00 hingga 06.00 WIB pada Sabtu (21/02/2026), gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini tercatat mengalami puluhan aktivitas guguran lava pijar. Fenomena tersebut menjadi bagian dari pola erupsi efusif yang masih berlangsung hingga saat ini.

Berdasarkan pemantauan intensif yang dilakukan petugas, guguran lava tercatat sebanyak 13 kali. Arah luncuran material panas dominan menuju sektor barat daya, dengan jarak maksimum mencapai 1,8 kilometer. Jalur guguran meliputi beberapa alur sungai yang selama ini telah ditetapkan sebagai kawasan rawan, seperti Kali Sat atau Putih, Kali Bebeng, serta Kali Krasak.

“Teramati 13 kali guguran lava ke arah Barat Daya (Kali Sat/Putih, Kali Bebeng dan Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 1.800 meter,” jelas Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dalam laporan resminya.

Meski aktivitas guguran cukup intens, laporan yang sama menyebutkan bahwa selama periode pengamatan tersebut tidak teramati kemunculan awan panas guguran. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun suplai magma masih berlangsung, energi erupsi belum memicu runtuhan besar yang berpotensi menghasilkan awan panas meluncur.

Sementara itu, sehari sebelumnya, tepatnya pada Jumat (20/02/2026), intensitas guguran lava justru tercatat lebih tinggi. Dalam kurun waktu pengamatan 24 jam, Gunung Merapi mengeluarkan total 61 kali guguran lava. Namun demikian, kondisi tersebut juga tidak disertai dengan kemunculan awan panas guguran.

“Teramati 61 kali guguran lava ke arah Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter,” katanya.

Peningkatan jumlah guguran lava ini menjadi indikator bahwa aktivitas ekstrusi magma masih berlangsung secara berkesinambungan. Oleh karena itu, BPPTKG menegaskan bahwa status Gunung Merapi hingga kini masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut mengharuskan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kewaspadaan serta mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan.

Adapun potensi bahaya utama saat ini masih didominasi oleh ancaman guguran lava dan awan panas guguran, terutama pada sektor selatan hingga barat daya. Daerah yang berpotensi terdampak meliputi aliran Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer dari puncak, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.

Selain itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup aliran Sungai Woro hingga sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer. BPPTKG juga mengingatkan bahwa jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat mencapai radius hingga 3 kilometer dari puncak.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan rawan bencana diimbau untuk tetap tenang namun waspada, tidak melakukan aktivitas di zona terlarang, serta mengikuti informasi resmi dari instansi berwenang guna meminimalkan risiko akibat aktivitas Gunung Merapi yang masih fluktuatif. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews