NEW YORK – Ibu Negara Amerika Serikat, Melania Trump, mencatatkan tonggak baru dalam diplomasi internasional dengan memimpin pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Senin (02/03/2026) waktu setempat. Ia menjadi istri presiden AS pertama yang memimpin forum paling berpengaruh di PBB tersebut.
Sidang Dewan Keamanan kali ini mengangkat tema “Perdamaian melalui Pendidikan”, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Momentum tersebut berlangsung hanya beberapa hari setelah laporan serangan udara di Iran yang disebut menghantam sebuah sekolah dasar putri di Kota Minab.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 168 anak-anak tewas dalam insiden tersebut. Hingga kini, belum ada kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa otoritas terkait masih menyelidiki kemungkinan keterlibatan pihak Amerika Serikat dalam insiden tersebut.
Isu keselamatan anak dalam konflik bersenjata menjadi sorotan utama dalam forum tersebut. Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Rosemary DiCarlo, menyampaikan keprihatinan mendalam terkait dampak operasi militer terhadap sektor pendidikan.
“Sekolah-sekolah di Israel, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Amman telah ditutup dan beralih ke pembelajaran jarak jauh akibat operasi militer yang sedang berlangsung di wilayah tersebut,” ujar DiCarlo. “Kami mengetahui laporan dari Iran mengenai kematian kemungkinan puluhan anak-anak, yang diduga akibat serangan yang menghantam sebuah sekolah dasar di kota Minab.”
Ia juga menggarisbawahi pentingnya pencegahan konflik sebagai langkah paling efektif dalam melindungi anak-anak. “Ibu Presiden, cara paling efektif untuk melindungi anak-anak dari konflik adalah dengan mencegah dan menghentikan perang,” tambahnya.
Dalam pidatonya, Melania Trump tidak secara langsung menyinggung konflik bersenjata yang tengah berlangsung. Namun, ia menyampaikan simpati kepada keluarga prajurit Amerika Serikat yang gugur dalam tugas militer.
“Belasungkawa yang tulus kepada keluarga anggota dinas AS yang mengorbankan nyawa mereka demi kebebasan,” ucap Melania dalam sambutannya.
Selain menyoroti pendidikan sebagai instrumen perdamaian, Melania juga mengangkat isu kesenjangan akses teknologi global. Ia mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk memperluas akses pengetahuan, termasuk bagi masyarakat di wilayah terpencil. Menurutnya, teknologi dapat menjadi jembatan dalam membangun generasi yang lebih resilien di tengah dinamika global.
Rosemary DiCarlo dalam kesempatan yang sama turut mengapresiasi perhatian Melania terhadap isu anak-anak terdampak konflik, termasuk inisiatif pribadinya dalam upaya pemulangan anak-anak Ukraina dari Rusia.
Langkah Melania memimpin sidang Dewan Keamanan dinilai sebagai sinyal diplomatik penting dari Gedung Putih. Hal ini terjadi di tengah koordinasi intensif antara Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait operasi militer yang dimulai sejak akhir pekan lalu.
Forum tersebut memperlihatkan irisan antara diplomasi, keamanan global, dan agenda kemanusiaan. Di tengah eskalasi konflik, pesan tentang pendidikan dan perlindungan anak menjadi pengingat bahwa dampak perang tidak hanya menyentuh garis depan militer, tetapi juga masa depan generasi muda. []
Diyan Febriana Citra.

