Israel Kembali Gempur Teheran, Serangan Udara Masuki Gelombang ke-11

Israel Kembali Gempur Teheran, Serangan Udara Masuki Gelombang ke-11

Bagikan:

TEHERAN – Gelombang serangan udara yang dilancarkan Israel kembali menghantam ibu kota Iran, Teheran, pada Rabu (04/03/2026) malam waktu setempat. Serangan tersebut diklaim menyasar sejumlah fasilitas militer milik Iran yang berkaitan dengan sistem persenjataan strategis. Situasi ini memperpanjang rangkaian eskalasi konflik antara kedua negara yang dalam beberapa hari terakhir semakin meningkat.

Militer Israel melalui Pasukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces (IDF) menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian serangan yang terus dilakukan sejak akhir Februari. Menurut pihak militer, operasi udara kali ini menjadi gelombang serangan ke-11 yang diarahkan ke wilayah Teheran sejak 28 Februari 2026.

Dalam konferensi pers yang disampaikan kepada media internasional, juru bicara IDF, Effie Defrin menegaskan bahwa operasi militer Israel masih akan terus berlanjut.

“Kami menyerang rezim dengan kekuatan besar, dan kami tidak berniat untuk berhenti sejenak pun. Kami menyerang target-targetnya yang paling sensitif dan signifikan, dan kami telah merusak stabilitasnya,” kata juru bicara IDF Effie Defrin dalam konferensi pers dikutip dari CNN, Kamis (05/03/2026).

Menurut militer Israel, sejumlah target yang disasar dalam serangan tersebut berkaitan dengan jaringan rudal balistik milik Iran. Serangan udara itu disebut berhasil menghancurkan puluhan aset militer yang dianggap menjadi bagian penting dari sistem persenjataan strategis negara tersebut.

Di sisi lain, kondisi di lapangan dilaporkan semakin mencekam. Sejumlah warga asing yang berhasil keluar dari Iran menggambarkan suasana penuh ketakutan yang dirasakan masyarakat setempat akibat intensitas serangan yang terus meningkat.

Dua warga negara Austria yang baru saja meninggalkan Iran menyampaikan kesaksian mengenai situasi tersebut. Salah satunya adalah seorang pria bernama Omid yang mengaku merasakan langsung dampak serangan udara di sekitar tempat ia menginap.

“Semua orang takut,” kata seorang warga Austria bernama Omid dikutip dari Reuters.

Ia menilai kondisi di media sosial tidak sepenuhnya mencerminkan situasi nyata yang terjadi di dalam negeri. Menurutnya, masyarakat di Iran saat ini justru diliputi rasa cemas dan ketidakpastian.

“Mungkin Anda melihat di media sosial bahwa orang-orang senang karena (pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei) telah meninggal, tetapi saya pikir itu hanya media sosial. Semua orang di Iran, mereka takut,” lanjutnya.

Omid juga mengaku sempat mendengar suara ledakan keras di dekat hotel tempatnya menginap sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Iran.

“Saya sangat takut. Situasinya benar-benar sangat buruk,” katanya.

Kesaksian serupa disampaikan oleh warga Austria lainnya bernama Jawad. Ia mengaku melihat aktivitas militer yang meningkat di langit Teheran sebelum meninggalkan wilayah tersebut.

Menurut Jawad, ia menyaksikan sejumlah roket melintas dan jet tempur beroperasi di udara. Kondisi ini membuat warga sipil semakin khawatir terhadap keselamatan mereka.

Selain ancaman serangan udara, gangguan terhadap jaringan komunikasi juga menjadi persoalan serius. Jawad mengatakan akses internet di Iran saat ini sangat terbatas sehingga menyulitkan masyarakat untuk berkomunikasi dengan keluarga mereka.

“Saya sangat sedih tentang Iran, sangat sedih. Karena keluarga saya sekarang berada di Iran, dan saya perlu memikirkan mereka,” kata Jawad.

Ia menambahkan bahwa komunikasi terakhir dengan keluarganya berlangsung dalam kondisi yang tidak menentu.

“Dan mereka tidak punya internet, mereka tidak bisa meneleponku. Panggilan terakhir kemarin. Kami sedikit mengobrol, lalu aku berkata: ‘Yah, mungkin kita tidak akan bertemu lagi.’ Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”

Situasi keamanan di Teheran hingga kini masih dilaporkan tegang. Serangan udara yang berulang serta terganggunya jaringan komunikasi membuat masyarakat menghadapi ketidakpastian di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional