JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai perubahan prospek peringkat utang Indonesia oleh Fitch Ratings tidak bisa dilepaskan dari dinamika ekonomi global yang tengah mengalami tekanan, khususnya akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada banyak negara, termasuk terhadap penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap perekonomian berbagai negara.
Sebelumnya, Fitch memutuskan merevisi outlook atau prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB yang masih berada dalam kategori layak investasi (investment grade).
Airlangga menegaskan bahwa keputusan tersebut perlu dilihat secara proporsional karena peringkat Indonesia sendiri belum mengalami penurunan. Ia menyebut perubahan outlook lebih merupakan sinyal kewaspadaan terhadap perkembangan global yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi di masa depan.
“Jadi memang (ekonomi) dunia ini outlook-nya lagi diperkirakan akan banyak perubahan dengan perkembangan di Timur Tengah. Tetapi yang penting kan Indonesia tetap investment grade. Nah ke depan tentu apa yang menjadi warning Fitch itu kita pelajari,” kata Airlangga dalam konferensi pers Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis (05/02/2026).
Pemerintah, lanjutnya, akan menjadikan laporan tersebut sebagai masukan penting dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional. Salah satu sektor yang mendapat perhatian adalah penerimaan negara yang dinilai perlu terus ditingkatkan guna menjaga kesehatan fiskal.
Dalam konteks itu, pemerintah mendorong implementasi sistem administrasi perpajakan berbasis teknologi yang dikenal sebagai Coretax. Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan perpajakan sekaligus memperbaiki rasio pajak nasional.
“Itu (Fitch Ratings) untuk mengingatkan Indonesia apa yang harus kita pelajari ke depan. Dan tentu beberapa hal yang kita lihat perlu kita perkuat adalah di segi penerimaan. Nah, pemerintah sudah paham itu dan oleh karena itu salah satunya adalah dengan Coretax yang kemarin sudah didorong di Kementerian Keuangan,” tambahnya.
Selain aspek fiskal, Fitch juga menyoroti sejumlah program prioritas pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menanggapi hal tersebut, Airlangga menilai program tersebut merupakan bentuk investasi jangka panjang yang manfaat ekonominya dapat dirasakan di masa depan.
Ia menjelaskan berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa investasi dalam program gizi dan kesehatan masyarakat dapat menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan. Oleh karena itu, pemerintah memandang program tersebut bukan sekadar pengeluaran jangka pendek, melainkan bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia.
“Jadi itu adalah sebuah investasi dan banyak negara melakukan itu. Bahkan Amerika pun melakukan itu sehingga ini adalah tantangan long term dan medium term yang tidak bisa kita menghilangkan long term hanya untuk short term,” tutur Menko.
Di sisi lain, perhatian Fitch juga tertuju pada pembentukan lembaga pengelola investasi negara Danantara yang berfungsi sebagai sovereign wealth fund Indonesia. Airlangga menyebut wajar jika lembaga baru tersebut masih menjadi sorotan karena belum memiliki rekam jejak yang panjang.
Menurutnya, diperlukan waktu bagi lembaga tersebut untuk membangun kredibilitas dan kepercayaan di mata investor global maupun lembaga pemeringkat internasional.
“Danantara kan suatu organisasi yang sovereign wealth fund yang baru. Tentu belum semuanya kan kenal. Jadi, dan track record-nya diperlukan. Oleh karena itu, perhatian itu menjadi catatan,” kata dia.
Dalam laporan terbarunya, Fitch menyebut revisi outlook menjadi negatif mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan yang dinilai berpotensi memengaruhi prospek fiskal Indonesia dalam jangka menengah. Lembaga tersebut juga menilai adanya kecenderungan sentralisasi pengambilan kebijakan yang dapat berdampak pada sentimen investor dan ketahanan eksternal.
Meski demikian, Fitch tetap mempertahankan peringkat BBB bagi Indonesia. Keputusan tersebut didasarkan pada sejumlah faktor positif, antara lain stabilitas makroekonomi yang relatif terjaga, prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah yang dinilai solid, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang masih moderat, serta cadangan devisa yang dinilai memadai untuk menopang stabilitas ekonomi nasional. []
Diyan Febriana Citra.

