JAKARTA – Kasus campak kembali menunjukkan tren peningkatan di Indonesia pada awal tahun 2026. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat ribuan laporan kasus suspek dalam dua bulan pertama tahun ini, dengan sejumlah kasus telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena sebagian besar penderita diketahui tidak memiliki riwayat imunisasi.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, menyampaikan bahwa lonjakan kasus mulai terlihat sejak awal Januari 2026. Berdasarkan data yang dihimpun hingga akhir Februari, tercatat ribuan laporan dugaan infeksi campak yang tersebar di berbagai daerah.
“Tahun 2026 hingga Februari, tercatat sebanyak 8.810 suspek dengan 572 kasus konfirmasi laboratorium 5 kematian,” kata Aji Muhawarman, Kamis (05/03/2026).
Dari total kasus yang telah dipastikan melalui uji laboratorium, sebagian besar pasien tidak memiliki riwayat imunisasi campak. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena penyakit ini sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.
“Data 2026 menunjukkan sekitar kurang lebih 67% kasus konfirmasi tidak memiliki riwayat imunisasi, dan seluruh kematian terjadi pada bayi atau balita yang belum divaksinasi,” ujarnya.
Pada pertengahan Januari 2026, jumlah laporan suspek bahkan sempat mencapai puncaknya dengan rata-rata sekitar 420 kasus per hari. Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa virus campak masih menjadi ancaman bagi kelompok anak-anak, terutama mereka yang belum mendapatkan perlindungan imunisasi.
Pemerintah menilai rendahnya cakupan imunisasi menjadi salah satu faktor utama yang memicu meningkatnya kembali kasus campak. Selain itu, penyebaran informasi yang tidak benar mengenai vaksin turut memengaruhi keputusan sebagian orang tua untuk menunda atau bahkan menolak imunisasi bagi anak mereka.
Menurut Aji Muhawarman, masih banyak masyarakat yang terpengaruh informasi keliru mengenai keamanan vaksin maupun kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI). Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya pemahaman tentang dampak serius penyakit campak.
“Sebagian masyarakat juga masih kurang pemahaman tentang bahaya komplikasi campak, seperti pneumonia, diare berat, hingga kematian,” ujarnya.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa cakupan imunisasi campak di Indonesia pada tahun 2025 hanya mencapai 63,52 persen. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 72,45 persen.
Peningkatan kasus juga dilaporkan di sejumlah daerah. Di Provinsi Sumatera Utara, dinas kesehatan setempat mencatat ratusan laporan kasus suspek campak dengan puluhan di antaranya telah dinyatakan positif. Sementara di Daerah Istimewa Yogyakarta, ratusan kasus serupa juga dilaporkan hingga awal Maret 2026.
Di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, rumah sakit setempat mencatat lebih dari seratus laporan kasus suspek campak sejak akhir 2025 hingga awal 2026. Mayoritas pasien berasal dari kelompok bayi dan anak-anak.
Dokter anak di RSUD Wangaya, Bali, Putu Siska Suryaningsih, mengatakan sebagian besar pasien yang ia tangani belum pernah menerima vaksin campak.
“Rata-rata sih semua belum imunisasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Selain menimbulkan demam dan ruam pada kulit, penyakit ini juga berpotensi menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak, hingga kematian pada anak.
Untuk menekan penyebaran penyakit tersebut, Kementerian Kesehatan mempercepat pelaksanaan program imunisasi tanggap wabah atau Outbreak Response Immunization (ORI) campak-rubella. Program ini direncanakan berlangsung di puluhan kabupaten dan kota yang mengalami kejadian luar biasa (KLB).
Selain itu, pemerintah juga menjalankan program Catch Up Campaign yang menyasar daerah dengan peningkatan kasus dalam beberapa tahun terakhir. Upaya edukasi kepada masyarakat juga diperkuat dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta organisasi kemasyarakatan untuk meluruskan informasi yang keliru tentang vaksin.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa vaksin campak telah terbukti aman dan efektif dalam mencegah infeksi.
“Vaksin yang ada, campak maupun yang lain, dijamin pertama aman dan kedua berkhasiat mencegah penyakit,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa efektivitas vaksin campak dapat mencapai sekitar 97 persen apabila diberikan secara lengkap dalam dua dosis. Karena itu, para ahli menilai imunisasi tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit ini.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga mengimbau para orang tua agar memastikan anak-anak mereka mendapatkan imunisasi sesuai jadwal.
“Semua ibu-ibu yang punya anak di bawah 5 tahun harus segera divaksinasi, diimunisasi campak. Kalau enggak, pasti tertular,” ujarnya.
Dengan meningkatnya kasus pada awal tahun ini, pemerintah berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi dapat kembali meningkat sehingga penyebaran campak dapat segera dikendalikan. []
Diyan Febriana Citra.

