JAKARTA – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran, Pemerintah Provinsi Jakarta memastikan ketersediaan bahan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) di ibu kota tetap terjaga. Pemerintah daerah juga meminta masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan yang berpotensi memicu kepanikan di pasar.
Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa kondisi stok pangan di Jakarta saat ini dalam keadaan aman. Ia menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipatif untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi, meskipun situasi internasional sedang tidak menentu.
“Jadi untuk Jakarta, hal yang mencakup kebutuhan pokok, mulai dari beras, daging, cabai merah keriting, dan yang lain-lain, kami menggaransi aman. Bahkan kelebihan stok sebenarnya,” kata Pramono saat ditemui di kawasan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, Jumat (06/03/2026).
Menurut Pramono, sejauh ini harga sejumlah bahan pangan di pasaran masih relatif stabil. Ia mengakui terdapat sedikit kenaikan pada komoditas tertentu seperti cabai, namun kenaikan tersebut masih berada dalam batas yang wajar dan tidak mengganggu daya beli masyarakat.
“Mudah-mudahan ini kita bisa jaga,” katanya.
Untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan langkah-langkah stabilisasi pasokan, khususnya untuk komoditas yang sensitif terhadap fluktuasi harga. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menambah pasokan daging melalui impor sapi hidup.
Pramono mengungkapkan bahwa pemerintah telah mendatangkan sekitar 2.000 ekor sapi guna menjaga kestabilan harga daging di pasar. Langkah ini diharapkan mampu menekan potensi kenaikan harga, terutama menjelang periode peningkatan konsumsi masyarakat.
“Kenapa kemudian kemarin daging kami mengimpor dan masuk 2000 ekor, betul-betul kami persiapkan supaya harga daging di Jakarta tidak mengalami kenaikan,” kata dia.
Selain memastikan ketersediaan bahan pangan, Pemprov DKI juga memantau pasokan energi, khususnya BBM. Pramono menegaskan bahwa distribusi BBM di Jakarta masih dalam kondisi aman karena ibu kota merupakan salah satu wilayah prioritas dalam sistem distribusi energi nasional.
“Kalau BBM, Jakarta tentunya selalu menjadi prioritas untuk stoknya, karena kami juga punya stok sendiri,” kata dia.
Ia juga meyakini masyarakat tidak akan melakukan panic buying terhadap BBM meskipun konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terkait pasokan energi global. Pemerintah daerah berharap masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh spekulasi yang beredar.
Dalam kesempatan tersebut, Pramono bahkan mengajak masyarakat untuk mempertimbangkan konsep “mudik ke Jakarta” pada perayaan Idul Fitri 2026. Menurutnya, langkah tersebut secara tidak langsung dapat membantu menghemat penggunaan BBM, karena mobilitas masyarakat menuju luar kota bisa dikurangi.
“Saya tetap mendorong untuk mudik ke Jakarta supaya BBM-nya juga tidak dibuang ke mana-mana, maka mudah-mudahan itu bisa berjalan dengan baik,” ucap Pramono.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lanjutnya, terus memantau perkembangan situasi global guna memastikan distribusi pangan dan energi di wilayah ibu kota tetap berjalan lancar. Koordinasi dengan pemerintah pusat juga dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan dampak lanjutan dari konflik internasional.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa cadangan BBM nasional masih mencukupi untuk kebutuhan sekitar 20 hari ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan usai menghadiri rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan pada awal pekan ini.
“Masih cukup, 20 hari,” kata Bahlil, di Istana, Jakarta.
Ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini tidak terdapat kendala terkait subsidi BBM dalam negeri. Namun, pemerintah tetap mewaspadai kemungkinan perubahan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Sampai hari ini enggak ada masalah, tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah,” tutur dia.
Dengan berbagai langkah antisipatif tersebut, pemerintah berharap stabilitas pasokan pangan dan energi di Jakarta dapat tetap terjaga, sehingga aktivitas masyarakat tidak terganggu meskipun kondisi global sedang mengalami ketidakpastian. []
Diyan Febriana Citra.

