Iran Ancam Blokir Ekspor Minyak ke Sekutu AS-Israel

Iran Ancam Blokir Ekspor Minyak ke Sekutu AS-Israel

Bagikan:

TEHERAN – Pemerintah Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyampaikan ancaman akan memblokir ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah kepada negara-negara yang dianggap bersekutu dengan Amerika Serikat dan Israel. Kebijakan tersebut dinyatakan akan tetap diberlakukan selama konflik bersenjata yang sedang berlangsung belum berakhir.

Pernyataan itu disampaikan juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, pada Selasa (10/03/2026) di Teheran. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan memberikan akses terhadap ekspor energi dari kawasan tersebut kepada pihak yang dianggap sebagai musuh.

“Angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan ekspor satu liter pun minyak dari kawasan ke pihak musuh dan sekutunya sampai pemberitahuan lebih lanjut,” ujar Naini, dikutip dari kantor berita AFP.

Menurut Naini, keputusan tersebut akan terus berlaku selama perang masih berlangsung, meskipun kebijakan itu dapat berubah mengikuti perkembangan situasi di lapangan. Pernyataan tersebut mencerminkan sikap keras Iran terhadap negara-negara yang terlibat dalam konflik melawan Teheran.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah sendiri meningkat sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke sejumlah target di wilayah Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan memicu eskalasi konflik yang meluas ke berbagai wilayah di kawasan.

Sebagai balasan atas serangan tersebut, Iran kemudian meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan wilayah Israel serta berbagai kepentingan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Rangkaian aksi militer dari kedua pihak membuat situasi keamanan regional semakin tidak stabil.

Konflik tersebut tidak hanya berdampak pada aspek militer dan politik, tetapi juga mempengaruhi jalur perdagangan energi global. Salah satu kawasan yang terdampak langsung adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global diketahui melewati selat tersebut setiap harinya. Namun sejak konflik meletus, lalu lintas kapal tanker yang melintas di jalur itu mengalami gangguan. Beberapa laporan bahkan menyebut pasukan Iran telah menyerang kapal tanker minyak yang melintasi wilayah tersebut.

Situasi ini turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak sempat menembus lebih dari 100 dolar Amerika Serikat per barel, yang merupakan level tertinggi sejak konflik Rusia dan Ukraina pada 2022.

Namun demikian, harga minyak sempat mengalami penurunan pada Senin (09/03/2026) setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa operasi militer yang sedang berlangsung diperkirakan akan segera berakhir.

Meski begitu, pihak Iran menilai upaya untuk menstabilkan harga energi di tengah konflik tidak akan bertahan lama. Naini menegaskan bahwa pengendalian harga minyak dan gas oleh pihak lawan hanya akan bersifat sementara.

“Upaya mereka untuk mengurangi dan mengendalikan harga minyak dan gas akan bersifat sementara dan sia-sia,” ucap Naini. “Perdagangan dalam kondisi perang bergantung pada keamanan.”

Selain mengancam blokade ekspor energi, IRGC juga menyerukan langkah diplomatik yang cukup keras kepada negara-negara lain. Pada Senin malam, lembaga tersebut menyatakan bahwa negara Arab maupun negara Eropa dapat memperoleh akses bebas melintasi Selat Hormuz jika mereka mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayahnya.

“Negara Arab atau Eropa mana pun yang mengusir duta besar Israel dan Amerika dari wilayahnya akan memiliki kebebasan dan wewenang penuh untuk melewati Selat Hormuz mulai besok,” kata IRGC, seperti dikutip stasiun televisi pemerintah Iran.

Pernyataan tersebut semakin menegaskan bahwa konflik yang sedang berlangsung tidak hanya berdampak pada hubungan militer antarnegara, tetapi juga berpotensi mengubah dinamika perdagangan energi global. Jika ketegangan terus berlanjut, stabilitas pasokan minyak dunia dikhawatirkan akan semakin terganggu.

Sejumlah pengamat internasional menilai bahwa Selat Hormuz akan menjadi titik krusial dalam konflik ini, mengingat perannya yang sangat penting bagi distribusi energi global. Karena itu, setiap perkembangan di kawasan tersebut akan terus menjadi perhatian komunitas internasional. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional