Laporan Intelijen AS Sebut Iran Pasang Ranjau di Selat Hormuz

Laporan Intelijen AS Sebut Iran Pasang Ranjau di Selat Hormuz

Bagikan:

WASHINGTON – Laporan intelijen Amerika Serikat mengungkap potensi peningkatan ketegangan di kawasan Teluk Persia setelah adanya indikasi bahwa Iran kemungkinan menyiapkan ranjau laut di jalur strategis pelayaran internasional. Informasi tersebut dilaporkan oleh media Amerika Serikat, yang menyebut aktivitas itu terdeteksi di sekitar Selat Hormuz.

Media CBS News pada Selasa (10/03/2026) melaporkan bahwa lembaga intelijen Amerika Serikat mengidentifikasi kemungkinan penggunaan kapal kecil oleh Iran untuk menempatkan ranjau di perairan tersebut. Kapal-kapal berukuran kecil itu disebut mampu membawa sekitar dua hingga tiga ranjau laut dalam satu perjalanan.

Menurut laporan tersebut, jumlah ranjau laut yang dimiliki Iran diperkirakan cukup besar. Stok persenjataan itu disebut berkisar antara 2.000 hingga 6.000 unit. Namun demikian, angka pasti mengenai jumlah ranjau yang tersedia masih belum dapat dipastikan secara definitif.

Selain diproduksi di dalam negeri, sebagian ranjau tersebut dilaporkan berasal dari luar negeri. Sumber yang sama menyebut beberapa di antaranya diproduksi di Rusia maupun China.

Meningkatnya kewaspadaan intelijen tersebut tidak terlepas dari eskalasi konflik yang terjadi beberapa waktu terakhir di kawasan Timur Tengah. Ketegangan memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di wilayah Iran pada 28 Februari 2026 lalu.

Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan pada sejumlah fasilitas serta menyebabkan jatuhnya korban sipil. Tidak lama setelah itu, Iran melakukan serangan balasan dengan menargetkan wilayah Israel serta beberapa fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.

Pada awalnya, Washington dan Tel Aviv menyatakan operasi militer tersebut dilakukan untuk menghadapi ancaman yang mereka nilai berasal dari program nuklir Iran. Namun kemudian, kedua negara tersebut memperjelas bahwa operasi militer itu juga berkaitan dengan upaya mendorong perubahan kekuasaan di Iran.

Konflik semakin memanas setelah pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan gugur pada hari pertama operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Kematian pemimpin tertinggi Republik Islam Iran tersebut memicu reaksi keras dari pemerintah Teheran.

Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari untuk menghormati wafatnya pemimpin tertinggi negara tersebut. Peristiwa itu juga memicu perhatian dan reaksi dari sejumlah negara lain di dunia.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengecam keras peristiwa tersebut. Ia menilai pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Iran itu sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional secara terang-terangan.

Pemerintah Rusia melalui Kementerian Luar Negeri Rusia juga menyampaikan kecaman terhadap operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel di Iran. Moskow mendesak semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan yang terjadi.

Dalam pernyataannya, Rusia juga menyerukan agar upaya deeskalasi segera dilakukan guna mencegah konflik meluas di kawasan Timur Tengah. Seruan tersebut disampaikan mengingat posisi kawasan tersebut yang sangat strategis, terutama terkait jalur energi global.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia karena menjadi rute utama pengiriman minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional. Jika kawasan tersebut terganggu oleh konflik atau pemasangan ranjau laut, dampaknya berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan energi global.

Sejumlah analis menilai bahwa situasi di kawasan tersebut masih sangat dinamis dan berisiko memicu konflik yang lebih luas. Oleh karena itu, banyak pihak internasional kini menyerukan langkah diplomatik guna meredakan ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Internasional