TEHERAN – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi yang diklaim berkaitan dengan kepentingan militer Amerika Serikat dan Israel. Operasi tersebut diumumkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Jumat (13/03/2026).
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut serangan tersebut ditujukan ke beberapa titik yang diduga menjadi tempat perlindungan atau lokasi berkumpulnya komandan militer Amerika Serikat dan Israel. Informasi itu disampaikan melalui kantor berita Iran, Fars News Agency.
“Sekitar 10 tempat perlindungan dan lokasi di wilayah pendudukan, serta tiga lokasi perkumpulan dan tempat perlindungan AS di wilayah tersebut, telah diidentifikasi dan diserang dengan tujuan memburu komandan AS dan Zionis,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Fars.
Menurut keterangan tersebut, militer Iran menggunakan kombinasi drone tempur dan rudal untuk melancarkan operasi tersebut. Sejumlah target yang disebutkan berada di wilayah Israel, termasuk di kota Tel Aviv yang disebut menjadi sasaran tujuh serangan.
Selain itu, dua target lain dilaporkan berada di kota Rishon LeZion yang terletak di selatan Tel Aviv. Satu lokasi tambahan disebut berada di kota Shoham.
Tidak hanya di Israel, Iran juga mengklaim melakukan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Salah satu target yang disebut adalah Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi.
Selain itu, serangan juga dilaporkan diarahkan ke fasilitas militer Amerika Serikat di wilayah Baghdad dan Erbil yang berada di Irak.
Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari respons Iran atas serangan sebelumnya yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran. Serangan itu dilaporkan terjadi pada 28 Februari 2026 lalu dan menargetkan beberapa wilayah strategis di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.
Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan infrastruktur serta korban sipil. Dalam laporan yang beredar, peristiwa itu juga disebut menyebabkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Situasi tersebut kemudian memicu respons militer dari Iran yang menargetkan sejumlah wilayah yang berkaitan dengan Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat dan Israel menyatakan bahwa operasi militer yang mereka lakukan merupakan langkah pencegahan terhadap ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Kedua negara tersebut menilai aktivitas nuklir Iran berpotensi menimbulkan risiko keamanan bagi kawasan.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, sejumlah pernyataan dari pihak Amerika Serikat dan Israel juga menyinggung kemungkinan perubahan kekuasaan di Iran sebagai salah satu tujuan dari tekanan militer tersebut.
Ketegangan yang terus meningkat ini menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Pengamat internasional menilai bahwa eskalasi antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi memicu konflik yang lebih besar jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi.
Hingga kini, belum ada laporan resmi yang merinci dampak kerusakan maupun korban akibat serangan terbaru yang diklaim dilakukan oleh Iran. Situasi di sejumlah wilayah yang menjadi target masih terus dipantau oleh berbagai pihak.
Perkembangan konflik ini menjadi perhatian dunia internasional karena melibatkan sejumlah negara besar serta berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan dan politik global. []
Diyan Febriana Citra.

