WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan belum bersedia menempuh kesepakatan untuk menghentikan operasi militer terhadap Iran. Menurut Trump, persyaratan yang tersedia saat ini dinilai belum cukup kuat untuk menjamin tercapainya penghentian konflik secara menyeluruh.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa pihaknya masih menilai berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan terkait penghentian operasi militer yang saat ini berlangsung.
“Iran ingin membuat kesepakatan, dan saya tidak mau melakukannya karena persyaratannya belum cukup baik,” ujarnya dalam wawancara dengan NBC News, sebagaimana diberitakan Antara, Sabtu (14/03/2026), seraya menambahkan bahwa setiap persyaratan harus sangat kuat.
Trump tidak merinci secara detail syarat yang dimaksud dalam proses perundingan tersebut. Namun, ia memberi isyarat bahwa salah satu poin utama yang harus dipenuhi oleh Iran adalah komitmen penuh untuk menghentikan seluruh ambisi pengembangan nuklirnya.
Menurut Trump, jaminan tersebut merupakan bagian penting dari kemungkinan kesepakatan gencatan senjata yang tengah dipertimbangkan. Tanpa komitmen yang jelas dari Teheran mengenai program nuklirnya, pemerintah Amerika Serikat menilai kesepakatan damai tidak akan memberikan kepastian keamanan jangka panjang.
Pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Situasi ini berkembang setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu.
Serangan tersebut disebut memicu dampak luas terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global. Sejumlah jalur pelayaran internasional dilaporkan mengalami gangguan akibat meningkatnya risiko keamanan di wilayah tersebut.
Selain itu, pasar energi dunia juga merasakan dampaknya. Harga minyak global tercatat mengalami lonjakan tajam setelah operasi militer dimulai, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia.
Ketegangan geopolitik tersebut turut memengaruhi stabilitas ekonomi global. Para analis memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan berpotensi memperburuk ketidakpastian ekonomi internasional, terutama jika jalur perdagangan dan distribusi energi terus terganggu.
Hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa konflik akan segera mereda. Amerika Serikat dan sekutunya masih mempertahankan tekanan militer, sementara Iran juga belum menunjukkan sikap yang sepenuhnya memenuhi tuntutan yang diharapkan Washington dalam proses menuju gencatan senjata. []
Redaksi05

