TEPI BARAT – Serpihan rudal yang diduga berasal dari serangan Iran menghantam permukiman sipil di wilayah Tepi Barat dan Israel, menewaskan empat orang serta melukai sedikitnya delapan lainnya dalam rangkaian eskalasi konflik terbaru, Kamis (19/03/2026). Korban mencakup tiga perempuan Palestina dan satu pekerja asing.
Insiden paling mematikan terjadi di Kota Beit Awa, dekat Hebron, ketika pecahan logam rudal menghantam sebuah salon rambut yang berada di dalam karavan logam di samping rumah warga pada Rabu (18/03/2026) malam. Peristiwa ini menjadi korban jiwa pertama dari pihak Palestina sejak konflik memanas akibat operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Menurut Palang Merah Palestina, salah satu korban tewas adalah Mays Ghazi Masalmeh, remaja berusia 17 tahun. Selain itu, sedikitnya delapan orang mengalami luka-luka, dengan satu perempuan dilaporkan dalam kondisi kritis.
Foto-foto dari kantor berita Agence France-Presse (AFP) memperlihatkan kondisi karavan yang rusak parah dengan atap berlubang, serta bagian dalam ruangan yang dipenuhi darah akibat dampak serpihan munisi.
Selain di Beit Awa, kantor berita Palestina melaporkan pecahan rudal juga jatuh di sejumlah titik lain di wilayah Tepi Barat, termasuk di dalam Kota Hebron. Hal ini terjadi setelah militer Israel mengumumkan adanya gelombang baru peluncuran rudal dari Iran.
Di wilayah Israel tengah, otoritas medis setempat melaporkan seorang pekerja asing turut menjadi korban tewas akibat serangan tersebut. Korban disebut sebagai warga negara Thailand yang bekerja di sektor pertanian dan ditemukan di Moshav Adanim, sekitar 20 kilometer timur laut Tel Aviv.
Layanan darurat Israel, Magen David Adom, mengutip pernyataan tenaga medis Idan Shina yang mengatakan, “serpihan logam tersebar di lokasi kejadian,” di mana korban ditemukan tewas dengan “luka parah akibat serpihan,” sebagaimana diberitakan Kompas, Kamis (19/03/2026).
Militer Israel sebelumnya menyatakan telah mendeteksi peluncuran rudal dari Iran dan sedang berupaya melakukan pencegatan. Namun, beberapa gelombang serangan tambahan tetap terjadi dan memicu sirene peringatan di berbagai wilayah, termasuk Israel tengah, utara, serta permukiman di Tepi Barat.
Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengklaim telah meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel sebagai bagian dari serangan balasan. Sejumlah laporan media Israel juga menyebut kemungkinan penggunaan munisi cluster, yakni bom yang meledak di udara dan menyebarkan submunisi ke area luas.
Di tengah eskalasi tersebut, respons internasional mulai bermunculan. Wakil Presiden Palestina Hussein al-Sheikh menerima panggilan dari Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan yang menyampaikan kecaman atas serangan mematikan tersebut.
Serangan beruntun ini memperlihatkan meningkatnya risiko terhadap warga sipil di kedua wilayah, sekaligus mempertegas kekhawatiran komunitas internasional atas meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. []
Redaksi05

