TEL AVIV – Sistem pertahanan udara Israel kembali diaktifkan menyusul terdeteksinya peluncuran rudal dari Iran yang mengarah ke wilayah utara negara tersebut pada Jumat (20/03/2026). Aktivasi ini dilakukan untuk mengantisipasi ancaman di tengah eskalasi konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Militer Israel menyebutkan, sirene peringatan berbunyi di sejumlah wilayah, termasuk Haifa, Galilea, dan kawasan Dataran Tinggi Golan yang diduduki. Warga di wilayah tersebut diminta meningkatkan kewaspadaan seiring upaya pencegatan rudal yang tengah berlangsung.
Layanan darurat Israel, Magen David Adom, melaporkan hingga saat ini belum menerima panggilan terkait korban maupun kerusakan akibat serangan tersebut. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sistem pertahanan kemungkinan berhasil meredam dampak awal serangan.
Sementara itu, kantor berita Iran, Tasnim, menyatakan rudal-rudal yang diluncurkan menargetkan kawasan Teluk Haifa. Serangan ini disebut sebagai bagian dari rangkaian aksi balasan Iran terhadap Israel dalam konflik yang terus berkembang.
Peristiwa ini tidak berdiri sendiri. Ketegangan meningkat sejak serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Dalam laporan yang beredar, serangan tersebut menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menyasar sejumlah wilayah, tidak hanya di Israel, tetapi juga Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Perkembangan ini menunjukkan konflik yang kian meluas dengan potensi dampak regional yang signifikan, terutama terhadap stabilitas keamanan dan keselamatan warga sipil di kawasan terdampak, sebagaimana diwartakan Anadolu, Jumat, (20/03/2026). []
Redaksi05

