ANKARA – Pemerintah Turki mendorong skema gencatan senjata jangka pendek sebagai langkah awal membuka ruang negosiasi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, menyusul rangkaian serangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Usulan tersebut muncul di tengah kekhawatiran atas meluasnya konflik yang berdampak pada stabilitas kawasan. Turki disebut aktif menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk Amerika Serikat dan Iran, guna menciptakan kondisi yang memungkinkan dimulainya perundingan damai.
Berdasarkan laporan media berbasis Inggris, Middle East Eye, upaya ini juga diiringi pembentukan kelompok perunding oleh Kementerian Luar Negeri Turki bersama sejumlah mitra di kawasan Eropa dan Timur Tengah. Langkah tersebut ditujukan untuk meredam konflik sekaligus menyeimbangkan pengaruh Israel dalam dinamika geopolitik regional.
Sumber diplomatik Turki menyebutkan, meski mendorong gencatan senjata, Ankara tetap meragukan keberlanjutan kesepakatan jangka panjang, terutama terkait komitmen Israel untuk menghentikan serangan terhadap Iran.
Di sisi lain, proses negosiasi juga dihadapkan pada hambatan serius. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut menuntut Iran menghentikan program pengayaan uranium secara penuh, yang menjadi titik krusial dalam perundingan.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran, termasuk ke ibu kota Teheran. Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa.
Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika di sejumlah titik di Timur Tengah. Situasi ini memperbesar risiko konflik terbuka yang lebih luas.
Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menyatakan serangan dilakukan untuk mengantisipasi ancaman dari program nuklir Iran. Namun, berkembang pandangan bahwa langkah tersebut juga berkaitan dengan upaya mendorong perubahan kekuasaan di Iran, sebagaimana diwartakan Antara, Senin, (23/03/2026).
Dengan kondisi yang masih bergejolak, inisiatif Turki diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi deeskalasi konflik, meskipun tantangan diplomatik dan perbedaan kepentingan antarnegara masih menjadi kendala utama. []
Redaksi05

