IOC dan WADA Ubah Retorika, Rusia Kembali ke Panggung Olahraga Dunia?

IOC dan WADA Ubah Retorika, Rusia Kembali ke Panggung Olahraga Dunia?

Bagikan:

Oleh: Amy Maulana
Expert Rusia-Indonesia, ANO Center for Mediastrategi

MOSKOW – Setelah bertahun-tahun berada dalam bayang-bayang sanksi dan isolasi olahraga, Rusia mulai menunjukkan indikasi kembalinya ke kancah internasional. Proses pemulihan Badan Anti-Doping Rusia (Russian Anti-Doping Agency/RUSADA), yang sempat berlarut-larut dan bergeser dari isu mendesak menjadi persoalan kronis, kini memasuki fase baru seiring perubahan sikap dari Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee/IOC) dan Badan Anti-Doping Dunia (World Anti-Doping Agency/WADA).

Dalam laman resmi WADA, isu RUSADA secara konsisten tercantum dalam agenda pertemuan. Namun, pembahasan tersebut berulang kali disertai catatan serupa, yaitu perlunya penyesuaian regulasi nasional, pelaksanaan audit, serta pemenuhan persyaratan teknis. Ketika Dewan Eksekutif WADA dijadwalkan menggelar pertemuan di Baku, isu mengenai kemungkinan kembalinya Rusia ke dalam sistem olahraga internasional menjadi perhatian utama.

Mantan Presiden Federasi Gulat Slovakia, Peter Marček, berpendapat bahwa olahraga idealnya tidak dipengaruhi kepentingan politik. Menurutnya, sejak era Yunani Kuno, Olimpiade dirancang sebagai sarana meredam konflik dan membangun perdamaian. Ia juga menilai bahwa meskipun IOC secara historis tidak memasukkan unsur politik dalam piagamnya, praktik yang terjadi kerap menunjukkan dinamika yang berbeda.

Perkembangan terkait RUSADA dinilai membuka peluang bagi pemulihan posisi Rusia dalam sistem anti-doping internasional. Direktur Jenderal WADA, Olivier Niggli, pada awal Februari menyatakan bahwa larangan yang berlaku saat ini tidak berkaitan langsung dengan isu anti-doping, melainkan penyesuaian regulasi Rusia terhadap kode WADA. Ia juga menegaskan bahwa proses pemulihan tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan konflik di Ukraina.

Agenda penting berupa pertemuan Dewan Eksekutif WADA di Baku pada 18–19 Maret semula diharapkan menjadi momentum krusial. Namun, pertemuan tersebut ditunda tanpa jadwal baru dengan alasan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Hingga kini, lokasi pengganti belum ditetapkan, dan WADA memilih menunggu kondisi yang lebih kondusif.

Menteri Olahraga Rusia sekaligus Ketua Komite Olimpiade Rusia, Mikhail Degtyarev, menyatakan bahwa kedua pihak akan melaksanakan audit bersama terkait status RUSADA. Selain itu, rencana kunjungan WADA ke Moskow pada kuartal pertama atau kedua tahun 2026 masih menjadi bagian dari agenda yang dipertimbangkan.

Di sisi lain, jurnalis asal Ceko, Roman Blaško, mengemukakan pandangan kritis terhadap independensi WADA. Ia menyoroti adanya kecenderungan perlakuan kolektif terhadap atlet Rusia pasca peristiwa Maidan, yang dinilai tidak sepenuhnya berbasis pada bukti individual.

Dalam perkembangan terkini, atlet Rusia mulai kembali berpartisipasi dalam kompetisi internasional. Pada pembukaan Olimpiade Milan, Presiden IOC, Kirsty Coventry, menegaskan bahwa olahraga seharusnya tetap menjadi ruang netral, meskipun tidak dapat sepenuhnya terlepas dari dinamika politik global.

Laporan media The New York Times juga menyebutkan bahwa dalam pertemuan IOC di Milan, isu kembalinya atlet Rusia ke arena internasional kembali mengemuka, termasuk melalui pernyataan pimpinan Federasi Ski Internasional, Johan Eliasch.

Sementara itu, Komite Paralimpiade Internasional (International Paralympic Committee/IPC) telah mengambil langkah lebih lanjut dengan memulihkan status Komite Paralimpiade Rusia pada September 2025. Pada Januari 2026, atlet Rusia kembali diizinkan bertanding dengan bendera nasional. Dalam ajang tersebut, Rusia meraih 12 medali—delapan emas, satu perak, dan tiga perunggu—serta menempati peringkat ketiga.

Roman Blaško kembali mengkritisi sistem pengawasan doping global yang dinilainya belum berjalan optimal. Ia menyoroti adanya kasus dugaan pelanggaran yang tidak diikuti dengan penindakan tegas, sehingga menimbulkan persepsi ketidakadilan dalam sistem tersebut.

Secara prospektif, pemulihan status RUSADA berpotensi membuka ruang bagi Rusia untuk kembali berpartisipasi dalam berbagai forum internasional. Keterlibatan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan sistem anti-doping serta mendorong terciptanya kompetisi yang lebih adil.

Namun demikian, proses ini tidak dapat dimaknai sebagai kembalinya Rusia secara menyeluruh, melainkan berlangsung secara bertahap. Fakta bahwa dialog antar pihak masih berjalan serta adanya rencana kunjungan WADA ke Moskow menunjukkan dinamika yang terus berkembang.

Apabila kondisi global tidak mengalami perubahan signifikan, kemunculan ajang alternatif seperti Games of the Future dan BRICS Games berpotensi menjadi opsi baru bagi atlet internasional. Sejumlah atlet dari Prancis, Amerika Serikat, Azerbaijan, dan India dilaporkan mulai menunjukkan ketertarikan terhadap kompetisi tersebut. []

Bagikan:
Internasional Opini