AS Prediksi Konflik Iran Selesai dalam Hitungan Pekan

AS Prediksi Konflik Iran Selesai dalam Hitungan Pekan

Bagikan:

MIAMI BEACH – Pemerintah Amerika Serikat (AS) memperkirakan operasi militer di Iran akan segera berakhir dalam hitungan pekan, meski ketegangan di kawasan Timur Tengah masih berlangsung dan dampaknya mulai terasa pada ekonomi global.

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden AS Donald Trump saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) FII Priority di Miami Beach, Jumat (27/03/2026) malam waktu setempat. Ia menilai konflik yang melibatkan AS dan Israel di Iran kini telah mendekati tahap akhir.

“Ini semacam sudah selesai, tapi belum benar-benar selesai. Ini harus diselesaikan,” ujar Trump, sebagaimana dilansir Wall Street Jurnal, Jumat, (27/03/2026).

Trump juga menegaskan bahwa pemerintahannya tidak menganggap situasi ini sebagai perang, melainkan bagian dari operasi militer terbatas. “Kami menyebutnya operasi militer. Kami tidak menyebutnya perang. Kami menyebutnya operasi militer,” tegasnya.

Sejak awal, Trump mengklaim telah memperkirakan operasi tersebut tidak akan menghadapi hambatan berarti. “Kami tahu ini akan berjalan mudah,” cetusnya.

Konflik ini bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan langkah strategis, termasuk penutupan Selat Hormuz jalur vital perdagangan energi dunia. Situasi tersebut memicu ketegangan regional dan mengguncang stabilitas ekonomi global.

Dampak konflik mulai terlihat pada pasar keuangan. Trump mengakui adanya tekanan terhadap indeks saham utama, termasuk Standard & Poor’s 500 (S&P 500) yang melemah selama lima pekan berturut-turut hingga mencapai titik terendah sejak Agustus.

“Saya pikir kita akan turun lebih jauh (indeks saham), dan saya pikir harga minyak akan melonjak lebih tinggi,” katanya.

Meski demikian, ia optimistis pemulihan ekonomi akan terjadi dengan cepat setelah konflik mereda. “Ketika perang ini berakhir, itu akan menjadi seperti roket. Ini memang belum berakhir,” tambahnya.

Senada dengan Trump, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa operasi militer tersebut tidak akan berlangsung lama. Ia memperkirakan konflik akan selesai dalam waktu dekat.

“Dalam hitungan minggu, bukan bulan,” kata Rubio.

Dalam komunikasi dengan negara-negara anggota Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) di Prancis, Rubio memperkirakan operasi militer masih akan berlangsung selama dua hingga empat pekan ke depan.

Sementara itu, pemerintah AS memberikan tenggat waktu hingga 6 April 2026 kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran komersial. Jika tidak dipenuhi, Iran berpotensi menghadapi serangan lanjutan yang menyasar infrastruktur energi.

Di sisi lain, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) tengah mempertimbangkan penguatan militer dengan mengirim tambahan sekitar 10.000 personel darat beserta kendaraan lapis baja ke kawasan Timur Tengah guna mendukung pasukan yang telah lebih dahulu ditempatkan.

Meski terdapat optimisme dari pejabat AS, kondisi di lapangan masih menunjukkan eskalasi yang signifikan. Penyelesaian konflik dalam waktu singkat menjadi harapan sekaligus tantangan bagi stabilitas kawasan dan perekonomian global ke depan. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang