RIYADH – Serangan rudal yang menghantam Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi pada Jumat (27/03/2026) waktu setempat memperpanjang daftar korban militer Amerika Serikat (AS) dalam konflik dengan Iran, dengan total korban luka kini melampaui 300 orang sejak perang dimulai akhir Februari 2026.
Insiden terbaru itu menyebabkan 12 tentara AS mengalami luka, dua di antaranya dalam kondisi kritis. Data tersebut menambah akumulasi korban sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, di mana lebih dari 300 personel militer AS tercatat terluka dan 13 lainnya meninggal dunia.
Berdasarkan keterangan dua pejabat AS, serangan rudal Iran menjelang akhir pekan lalu menjadi pemicu bertambahnya korban di pangkalan tersebut. Sebelumnya, militer AS menyebut sebagian besar korban telah kembali bertugas, dengan 273 personel dinyatakan pulih.
Di sisi lain, eskalasi konflik juga dipicu serangan Israel yang menargetkan fasilitas nuklir Iran pada hari yang sama. Serangan tersebut menyasar pabrik air berat serta fasilitas produksi uranium pekat atau yellowcake. Meski demikian, Organisasi Energi Atom Iran menyatakan tidak ada korban jiwa maupun risiko kontaminasi akibat serangan tersebut.
Ketegangan kian meningkat setelah Iran menyatakan akan segera melancarkan serangan balasan atas aksi militer tersebut. Situasi ini menandai potensi eskalasi lanjutan di kawasan Timur Tengah yang sebelumnya telah diguncang rangkaian serangan balasan antara pihak-pihak yang terlibat.
Data korban luka terbaru ini menunjukkan bahwa dampak konflik tidak hanya bersifat strategis, tetapi juga terus menekan kekuatan personel di lapangan, sekaligus memperbesar risiko ketidakstabilan kawasan dalam jangka pendek, sebagaimana dilansir Cnbc Indonesia, Sabtu (28/03/2026). []
Redaksi05

