WASHINGTON – Wacana pembiayaan perang Amerika Serikat (AS) terhadap Iran kembali memicu perhatian internasional setelah Gedung Putih memberi sinyal bahwa Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan meminta negara-negara Arab menanggung biaya konflik yang nilainya diperkirakan telah mencapai puluhan miliar dolar.
Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, saat menjawab pertanyaan wartawan pada Senin, (30/03/2026), terkait kemungkinan negara-negara Arab turut membiayai operasi militer AS, sebagaimana pola pendanaan saat Perang Teluk. “Saya pikir itu adalah sesuatu yang sangat diminati oleh presiden untuk meminta mereka melakukannya,” kata Leavitt, sebagaimana diberitakan Reuters, Senin, (30/03/2026).
Menurut Leavitt, dirinya belum ingin mendahului keputusan resmi presiden, namun gagasan tersebut disebut memang telah menjadi bagian dari pertimbangan Trump. “Saya tidak akan mendahului dia mengenai hal itu, tetapi yang pasti itu adalah ide yang saya tahu dia miliki, dan sesuatu yang saya pikir akan Anda dengar lebih banyak darinya,” ujarnya.
Sorotan terhadap pembiayaan perang ini menguat seiring meningkatnya beban anggaran militer AS. Berdasarkan laporan pejabat Pentagon kepada Kongres AS, enam hari pertama konflik saja telah menelan biaya sekitar US$11,3 miliar atau setara Rp192,1 triliun. Angka tersebut kemudian diperkirakan melonjak menjadi US$16,5 miliar pada hari ke-12 konflik, dan terus bertambah ketika perang memasuki hari ke-31.
Di sisi lain, Gedung Putih disebut tengah mengupayakan tambahan anggaran militer sedikitnya US$200 miliar dari Kongres guna mendanai operasi di Iran sekaligus mengisi kembali stok amunisi Pentagon. Kenaikan kebutuhan belanja pertahanan ini juga beriringan dengan lonjakan harga energi global setelah penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak terpenting dunia.
Leavitt menegaskan pemerintah AS memandang gejolak harga energi sebagai dampak jangka pendek yang dinilai sepadan dengan tujuan strategis jangka panjang. “Pesan keseluruhannya, seperti yang kami nyatakan berulang kali: Ini adalah tindakan jangka pendek dan fluktuasi harga jangka pendek untuk manfaat jangka panjang guna mengakhiri ancaman yang ditimbulkan Iran terhadap Amerika Serikat, pasukan kami, dan sekutu kami di kawasan,” tuturnya.
Sementara itu, pihak Iran menyatakan serangan terjadi ketika pembicaraan diplomatik masih berlangsung. Teheran juga menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang, di tengah aksi balasan berupa serangan rudal dan drone ke sejumlah titik di Timur Tengah.
Wacana pelibatan negara-negara Arab dalam pembiayaan perang dinilai berpotensi memengaruhi dinamika politik kawasan, terutama hubungan antara Washington dengan sekutu-sekutunya di Timur Tengah. Kebijakan tersebut juga membuka perdebatan baru mengenai legitimasi biaya perang dan distribusi tanggung jawab geopolitik di tengah konflik yang masih berlangsung. []
Redaksi05

