Rudal Hizbullah Guncang Israel, Sirene Meraung hingga Tel Aviv

Rudal Hizbullah Guncang Israel, Sirene Meraung hingga Tel Aviv

Bagikan:

TEL AVIV – Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Hizbullah meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel pada Jumat (10/04/2026) waktu setempat, memicu sirene peringatan serangan udara hingga terdengar di sejumlah wilayah, termasuk ibu kota Tel Aviv, di tengah polemik gencatan senjata yang belum sepenuhnya berjalan.

Serangan tersebut terjadi hanya dua hari setelah gelombang serangan udara besar-besaran Israel menggempur Lebanon pada Rabu (08/04/2026), yang menurut laporan menewaskan sedikitnya 303 orang dan melukai 1.150 lainnya. Situasi ini memperlihatkan bahwa upaya meredakan konflik di kawasan masih menghadapi tantangan serius.

Militer Israel menyatakan rudal yang diluncurkan Hizbullah berhasil dicegat di udara. Sementara itu, laporan media lokal The Times of Israel, sebagaimana dilansir Reuters dan diberitakan Detik, Jumat (10/04/2026), menyebut sistem pertahanan udara Israel mampu mencegah proyektil tersebut mencapai sasaran.

Di sisi lain, Hizbullah dalam pernyataannya menyebut serangan itu menyasar infrastruktur militer Israel di Kota Haifa, wilayah utara negara tersebut, pada Kamis (09/04/2026) tengah malam waktu setempat. Belum dapat dipastikan apakah klaim tersebut merujuk pada serangan yang sama dengan laporan militer Israel.

Sebagai respons, militer Israel melaporkan telah menggempur sekitar 10 sistem peluncur milik Hizbullah yang terdeteksi menjadi titik asal peluncuran roket ke wilayah utara Israel pada malam hari.

Ketegangan semakin menguat setelah Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa “tidak ada gencatan senjata di Lebanon”. Pernyataan itu muncul meskipun sebelumnya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran yang menurut sejumlah mediator juga mencakup Lebanon.

Pakistan yang disebut menjadi mediator serta Iran telah menegaskan bahwa kesepakatan tersebut mencakup Lebanon. Namun, Israel dan AS membantah interpretasi itu, sehingga membuka ruang perbedaan persepsi yang memperpanjang konflik.

Lebanon terseret lebih jauh dalam perang kawasan setelah Hizbullah, yang didukung Iran, meluncurkan serangan roket ke Israel pada awal Maret 2026. Hizbullah mengklaim langkah tersebut sebagai respons atas kematian pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi gabungan AS-Israel.

Sejak 2 Maret 2026, otoritas Beirut melaporkan sedikitnya 1.900 orang tewas dan lebih dari 1 juta warga terpaksa mengungsi akibat serangan udara dan operasi darat Israel di wilayah perbatasan Lebanon. Sumber yang mengetahui perkembangan di internal Hizbullah juga menyebut sedikitnya 400 petempur kelompok itu tewas dalam rentetan serangan tersebut. Kondisi ini memperlihatkan bahwa prospek perdamaian di kawasan masih jauh dari harapan. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang