WASHINGTON – Ketegangan retorika antara Presiden Amerika Serikat (AS) dan Pemimpin Gereja Katolik memanas setelah Donald Trump mengungkapkan telah memperingatkan Paus Leo XIV soal ancaman senjata nuklir Iran yang dinilainya berpotensi membahayakan umat Katolik di seluruh dunia.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan isu nuklir Iran sebagai ancaman global yang tidak bisa diabaikan. “Ini adalah salah satu perang terpenting. Saya mengatakan kepada Paus; Anda tidak bisa membiarkan mereka (Iran) memiliki senjata nuklir karena mereka akan menggunakannya dan jutaan orang akan mati, termasuk orang Italia dan umat Katolik di seluruh dunia,” kata Trump kepada The New York Post, sebagaimana dilansir Antara, Senin, (20/04/2026).
Pernyataan tersebut muncul di tengah perbedaan pandangan antara kedua tokoh terkait konflik di Iran. Trump menyatakan langkah pemerintahannya dalam melemahkan kekuatan militer Iran, termasuk program pengayaan uranium, bertujuan menjaga perdamaian jangka panjang.
Namun, hubungan keduanya dilaporkan merenggang setelah Paus Leo XIV secara terbuka mengkritik kebijakan militer AS bersama Israel terhadap Iran. Kritik itu memicu respons keras dari Trump yang menyayangkan sikap Pemimpin Gereja Katolik tersebut.
Dalam pernyataan lain, Trump juga menanggapi kritik tersebut dengan menyebut dirinya tetap memiliki hak untuk tidak sependapat. Ia bahkan sempat melontarkan klaim bahwa Paus Leo XIV tidak akan memimpin Gereja Katolik tanpa dukungan politik tertentu, meski kemudian menegaskan tidak memiliki masalah pribadi dengan Paus.
Sementara itu, Paus Leo XIV secara konsisten menyuarakan penolakan terhadap konflik bersenjata yang melibatkan Iran. Dalam khotbahnya pada awal April, ia menegaskan bahwa ancaman terhadap rakyat Iran tidak dapat dibenarkan dan bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus.
Paus juga menyoroti pentingnya menjauh dari ambisi dominasi dalam konflik global. Ia menyampaikan bahwa keinginan untuk menguasai pihak lain tidak sejalan dengan nilai-nilai ajaran Kristiani.
Perbedaan pandangan ini mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara pendekatan diplomasi berbasis kekuatan militer dengan pendekatan moral dan kemanusiaan dalam merespons konflik internasional. []
Redaksi05

