Drone Israel Hantam Lebanon Saat Gencatan Senjata Berlaku

Drone Israel Hantam Lebanon Saat Gencatan Senjata Berlaku

Bagikan:

BEIRUT – Serangan pesawat nirawak (drone) Israel kembali terjadi di wilayah selatan Lebanon saat gencatan senjata 10 hari masih berlangsung, menimbulkan kekhawatiran atas keberlanjutan kesepakatan damai di kawasan tersebut.

Serangan itu dilaporkan terjadi pada Senin (20/04/2026) di sekitar Sungai Litani, tepatnya di kawasan Qaqaiyat al-Jisr. Otoritas setempat menyebutkan serangan menyasar area tersebut, namun belum ada laporan resmi terkait jumlah korban jiwa dalam insiden terbaru ini.

Kantor Berita Nasional Lebanon menyatakan bahwa “sebuah drone musuh menargetkan sekitar Sungai Litani di kota Qaqaiyat al-Jisr,” sebagaimana dilansir Sumut Pos, Senin, (20/04/2026).

Di sisi lain, tim Pertahanan Sipil Lebanon menemukan dua jenazah di wilayah selatan yang diduga terkait serangan udara sebelumnya. Kedua korban ditemukan di dalam kendaraan yang tertimbun reruntuhan akibat serangan terhadap Jembatan Qasmiyah di atas Sungai Litani dalam beberapa pekan terakhir.

Jenazah tersebut kemudian dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut.

Insiden ini terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kesepakatan tersebut berlaku selama 10 hari dan mulai diterapkan sejak pertengahan April waktu setempat di Tel Aviv dan Beirut.

“Saya baru saja melakukan percakapan yang luar biasa dengan Presiden Joseph Aoun yang sangat dihormati, dari Lebanon, dan Perdana Menteri Bibi Netanyahu, dari Israel. Kedua pemimpin ini telah sepakat bahwa untuk mencapai perdamaian antara negara mereka, mereka akan secara resmi memulai gencatan senjata selama 10 hari pada pukul 17.00 sore EST,” kata Trump dalam pengumuman melalui Truth Social.

Kesepakatan itu tercapai setelah pembicaraan langsung antara perwakilan Israel dan Lebanon di Washington DC yang dimediasi oleh AS, sebuah langkah yang jarang terjadi dalam hubungan kedua negara.

Konflik di kawasan tersebut sendiri telah berlangsung sejak awal Maret 2026, ketika kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon dan didukung Iran melancarkan serangan terhadap Israel, yang kemudian memicu eskalasi militer di perbatasan kedua negara.

Situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil ini juga berdampak pada pasukan penjaga perdamaian, termasuk prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dilaporkan turut menjadi korban dalam misi di Lebanon.

Serangan terbaru di tengah masa gencatan senjata ini memperlihatkan rapuhnya upaya deeskalasi konflik dan berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah jika tidak segera dikendalikan.[]

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang