WASHINGTON DC – Amerika Serikat (AS) menjadwalkan pertemuan lanjutan antara Israel dan Lebanon dalam upaya meredam konflik yang masih berlanjut, meski gencatan senjata baru diberlakukan. Dialog langsung kedua pihak akan digelar di Washington pada Kamis (23/04/2026), di tengah situasi keamanan yang masih belum stabil.
Pemerintah AS melalui Departemen Luar Negeri menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mediator dalam proses diplomasi tersebut. Seorang pejabat menyatakan Washington akan menjaga kesinambungan komunikasi antara kedua negara yang hingga kini belum memiliki hubungan diplomatik resmi.
“Kami akan terus memfasilitasi diskusi langsung yang dilakukan dengan itikad baik antara kedua pemerintah,” ujar pejabat tersebut, sebagaimana dilansir Kompas, Selasa, (21/04/2026).
Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari dialog awal yang telah berlangsung pada 14 April 2026 di Departemen Luar Negeri AS. Dalam pertemuan sebelumnya, perwakilan Israel dan Lebanon mulai membuka jalur komunikasi langsung yang difasilitasi Washington.
Upaya diplomasi ini berlangsung bersamaan dengan penerapan gencatan senjata selama 10 hari yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, setelah meningkatnya eskalasi konflik yang dipicu serangan Israel-AS terhadap Iran dan balasan dari kelompok Hizbullah.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan ketegangan belum sepenuhnya mereda. Israel dilaporkan masih melakukan operasi militer di wilayah selatan Lebanon, sementara Hizbullah mengklaim tetap melakukan serangan terhadap target militer di kawasan perbatasan.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menegaskan bahwa langkah negosiasi merupakan pilihan strategis demi kepentingan nasional dan perlindungan rakyatnya.
“Negosiasi ini bukanlah kelemahan. Ini bukan kemunduran. Ini bukan konsesi,” katanya.
“Ini adalah keputusan yang lahir dari kekuatan keyakinan kami atas hak-hak kami dan kepedulian terhadap rakyat kami, serta tanggung jawab kami untuk melindungi negara kami dengan segala cara yang mungkin,” lanjutnya.
Di sisi lain, penolakan terhadap dialog datang dari pihak Hizbullah. Pemimpin kelompok tersebut, Naim Qassem, menilai perundingan tidak akan menghasilkan solusi tanpa kesepakatan internal di Lebanon.
“Kami menolak negosiasi dengan entitas Israel yang menduduki. Negosiasi ini sia-sia. Negosiasi ini memerlukan konsensus Lebanon untuk mengubah arah,” ujarnya.
“Tidak seorang pun berhak membawa Lebanon ke arah itu tanpa konsensus internal di antara komponennya, yang belum terjadi,” tambahnya.
Sementara itu, Donald Trump menyampaikan optimisme bahwa jalur diplomasi dapat membuka peluang perdamaian dalam waktu dekat. Ia bahkan berencana mempertemukan pemimpin kedua negara di Gedung Putih sebagai bagian dari upaya mempercepat kesepakatan damai.
Dengan kondisi gencatan senjata yang masih rapuh dan perbedaan sikap antar pihak, pertemuan di Washington dipandang sebagai momentum krusial untuk menentukan arah penyelesaian konflik di kawasan tersebut. []
Redaksi05

