GAZA – Serangan militer Israel kembali menelan korban jiwa di Jalur Gaza, dengan sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas dalam rentetan serangan yang terjadi di sejumlah wilayah pada Jumat (24/04/2026), di tengah situasi gencatan senjata yang masih rapuh.
Korban tersebar di beberapa titik, yakni tiga orang di Kota Gaza, dua orang di Beit Lahiya, Gaza utara, serta lima lainnya di Khan Younis, Gaza selatan. Di antara korban di Kota Gaza, terdapat dua aparat kepolisian yang turut menjadi sasaran.
Pemerintah Israel melalui militernya mengonfirmasi serangan di Kota Gaza dan menyebut operasi tersebut ditujukan untuk menargetkan militan Hamas. Namun, tidak ada penjelasan resmi terkait serangan lain yang dilaporkan terjadi di Beit Lahiya dan Khan Younis, sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu, (25/04/2026).
Kementerian Dalam Negeri Gaza menyatakan bahwa serangan di Kota Gaza dan Khan Younis secara spesifik menyasar aparat kepolisian setempat. Di Khan Younis, serangan dilaporkan menghantam kendaraan polisi serta area di sekitar gedung pernikahan, berdasarkan keterangan petugas medis dan warga.
Rentetan serangan ini terjadi di tengah peningkatan operasi militer Israel terhadap struktur keamanan lokal di Gaza yang dikelola Hamas. Aparat kepolisian tersebut disebut memiliki peran dalam mendukung pemerintahan Hamas di wilayah yang masih berada di bawah kendalinya.
Meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober 2025, kekerasan di wilayah ini belum sepenuhnya mereda. Data otoritas kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 800 warga Palestina tewas sejak kesepakatan tersebut berlaku, sementara pihak Israel melaporkan empat tentaranya tewas akibat serangan militan.
Konflik berkepanjangan ini bermula dari serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang. Sejak itu, operasi militer Israel di Gaza terus berlangsung dan telah menyebabkan lebih dari 72 ribu korban jiwa di pihak Palestina, dengan mayoritas merupakan warga sipil.
Situasi di lapangan menunjukkan bahwa kedua pihak masih saling menyalahkan atas pelanggaran gencatan senjata, sehingga peluang terciptanya stabilitas jangka panjang di wilayah tersebut masih menghadapi tantangan besar. []
Redaksi05

