GAZA – Ketegangan kembali meningkat di perairan Mediterania setelah penyelenggara Global Sumud Flotilla mengklaim armada kapal bantuan menuju Jalur Gaza dikepung kapal militer Israel saat berada di dekat perairan Yunani. Insiden tersebut disebut terjadi ketika lebih dari 100 kapal yang membawa aktivis pro-Palestina dan bantuan kemanusiaan berupaya menembus blokade Gaza.
Penyelenggara armada menyebut komunikasi dengan sejumlah kapal sempat terputus setelah kapal cepat militer mendekati rombongan di kawasan lepas pantai Kreta, Yunani. Armada tersebut diketahui berangkat dalam beberapa pekan terakhir dari Marseille di Prancis, Barcelona di Spanyol, dan Syracuse di Italia.
Dalam pernyataannya, Global Sumud Flotilla menuduh militer Israel melakukan pengepungan di wilayah perairan internasional.
“Kapal-kapal militer Israel telah ‘secara ilegal mengepung armada kapal di perairan internasional dan mengancam penculikan dan kekerasan’,” demikian pernyataan organisasi tersebut sebagaimana dilansir Arab News, Kamis (30/04/2026).
Organisasi itu juga menyebut gangguan komunikasi terjadi di tengah situasi mencekam di laut.
“Komunikasi dengan 11 kapal telah terputus,” tambah organisasi tersebut.
Selain itu, penyelenggara mengklaim kapal-kapal mereka mendapat intimidasi dari aparat bersenjata yang mengaku berasal dari Israel.
“Kapal-kapal kami didekati oleh kapal cepat militer, yang mengidentifikasi diri sebagai ‘Israel’, mengarahkan laser dan senjata serbu semi-otomatis, memerintahkan para peserta ke bagian depan kapal dan untuk berlutut,” tambah organisasi tersebut.
“Komunikasi kapal sedang dihalangi dan sinyal SOS telah dikeluarkan.”
Sementara itu, media Israel melaporkan aparat keamanan negara tersebut mulai mengambil langkah untuk menguasai kapal-kapal bantuan yang menuju Gaza. Informasi itu disampaikan radio militer Israel berdasarkan sumber internal, namun tidak dijelaskan jumlah kapal maupun lokasi pasti operasi dilakukan.
Armada Global Sumud Flotilla diketahui membawa hampir 1.000 aktivis dari berbagai negara dengan misi membuka jalur bantuan kemanusiaan menuju Gaza melalui laut. Aksi itu dilakukan di tengah blokade Israel terhadap wilayah Gaza yang berlangsung sejak 2007.
Insiden serupa juga pernah terjadi pada akhir 2025 ketika armada berisi sekitar 50 kapal dicegat angkatan laut Israel. Dalam peristiwa itu, sejumlah aktivis internasional, termasuk Greta Thunberg asal Swedia, ditangkap dan kemudian dideportasi oleh pemerintah Israel.
Mantan Menteri Keuangan Yunani Yanis Varoufakis turut menyoroti dugaan keterlibatan Yunani dalam insiden terbaru tersebut. Ia mempertanyakan sikap pemerintah Yunani setelah kapal bantuan disebut mendapat gangguan di dekat wilayah Kreta.
“Baru saja berbicara dengan teman-teman di Armada Global Sumud. Kapal dan drone Israel mengganggu mereka di lepas pantai Kreta,” tulis Yanis Varoufakis di media sosial X sebagaimana diwartakan Anadolu, Kamis (30/04/2026).
“Pemerintah Yunani terlibat atau tidak mampu mempertahankan laut kita dari Israel,” ia menegaskan.
Hingga Kamis malam, pemerintah Yunani maupun otoritas Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut. Situasi di sekitar armada bantuan juga masih terus dipantau oleh berbagai organisasi kemanusiaan internasional. []

