Trump Buka Sinyal Damai Iran-AS, Kapal Dagang Siap Dikawal di Selat Hormuz

Trump Buka Sinyal Damai Iran-AS, Kapal Dagang Siap Dikawal di Selat Hormuz

Bagikan:

WASHINGTON D.C. – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi sinyal positif terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran di tengah ketegangan di Selat Hormuz yang masih menghambat jalur perdagangan global. Pemerintah AS bahkan bersiap mengawal kapal-kapal komersial agar dapat melintas aman dari wilayah perairan yang dibatasi akibat konflik tersebut.

Trump menyebut komunikasi antara Washington dan Teheran menunjukkan perkembangan yang baik. Pernyataan itu disampaikan ketika AS menyiapkan operasi pengawalan kapal dagang dalam program bertajuk Proyek Kebebasan yang dijadwalkan dimulai pada Senin (04/05/2026) waktu Timur Tengah.

“Saya sepenuhnya menyadari bahwa perwakilan saya sedang melakukan diskusi yang sangat positif dengan Iran, dan ini bisa menghasilkan sesuatu yang sangat positif bagi semua pihak,” ujar Trump, sebagaimana dilansir Cnbc Indonesia, Senin (04/05/2026).

Selain membuka peluang diplomasi, Trump memastikan pemerintah AS akan membantu kapal-kapal komersial yang masih tertahan di sekitar Selat Hormuz agar dapat kembali beroperasi normal.

“Kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur air yang dibatasi ini, sehingga mereka dapat melanjutkan bisnis mereka,” katanya.

Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari misi kemanusiaan setelah banyak kapal dilaporkan mengalami keterbatasan logistik akibat konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, mengajukan proposal perdamaian 14 poin kepada AS melalui Pakistan sebagai mediator. Proposal itu ditujukan untuk mengakhiri konflik yang terus memanas sejak serangan aliansi AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Ketegangan kemudian meningkat setelah Iran melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer AS dan sejumlah target Israel di kawasan. Meski gencatan senjata mulai berlaku sejak 8 April 2026, proses negosiasi damai hingga kini belum menghasilkan kesepakatan final.

Selama konflik berlangsung, Iran menguasai Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak, gas, dan pupuk dunia. Kondisi tersebut berdampak besar terhadap rantai pasok global dan memicu blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Data perusahaan intelijen maritim AXSMarine mencatat lebih dari 900 kapal komersial masih berada di kawasan Teluk hingga 29 April 2026. Jumlah itu memang menurun dibanding awal konflik yang mencapai lebih dari 1.100 kapal, namun situasi perdagangan internasional dinilai masih berada dalam tekanan tinggi. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang