Drone Rusia Hantam Kapal China Jelang Pertemuan Putin dan Xi Jinping

Drone Rusia Hantam Kapal China Jelang Pertemuan Putin dan Xi Jinping

Bagikan:

KYIV – Serangan pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicle (UAV) Rusia terhadap dua kapal sipil di Laut Hitam memicu sorotan internasional setelah salah satu kapal yang terdampak diketahui milik perusahaan China. Insiden itu terjadi menjelang pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 19-20 Mei 2026.

Otoritas pelabuhan Ukraina melaporkan dua kapal yang tengah mendekati pelabuhan di wilayah Odesa menjadi sasaran serangan drone pada Senin (18/05/2026). Kapal tersebut masing-masing berbendera Kepulauan Marshall dan Guinea-Bissau.

Angkatan Laut Ukraina menyebut kapal berbendera Kepulauan Marshall bernama KSL Deyang merupakan kapal kargo milik China yang diawaki warga negara China. Foto kapal yang diunggah pihak Ukraina memperlihatkan bagian lambung kapal mengalami bekas terbakar akibat hantaman drone.

“Drone menyerang Odesa dan salah satu UAV (pesawat tanpa awak) menghantam kapal milik China,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Senin (18/05/2026).

“Pihak Rusia pasti tahu kapal apa yang sedang berada di laut,” sambungnya.

Meski terkena serangan, otoritas Ukraina memastikan tidak ada korban luka di antara awak kapal. Kapal KSL Deyang juga disebut tetap melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Pivdennyi untuk mengambil muatan konsentrat bijih besi.

“Untungnya, tidak ada yang terluka, dan kapal melanjutkan perjalanannya ke pelabuhan tujuan,” kata juru bicara Angkatan Laut Ukraina, Dmytro Pletenchuk.

Dalam laporan terpisah, Zelenskyy menyebut Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Ukraina sepanjang malam menggunakan 524 drone dan 22 rudal, termasuk rudal balistik dan rudal jelajah.

Wilayah Odesa selama ini menjadi salah satu titik strategis ekspor hasil pertanian Ukraina melalui jalur laut. Sejak invasi Rusia dimulai empat tahun lalu, kawasan pelabuhan di Laut Hitam berulang kali menjadi target serangan.

Insiden terhadap kapal China itu terjadi sehari sebelum kunjungan resmi Putin ke Beijing untuk melakukan pembicaraan bilateral dengan Xi Jinping. Hubungan erat Rusia dan China kembali menjadi perhatian negara-negara Barat, terutama sejak Moskwa melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada 2022.

China selama ini mengklaim berada di posisi netral dan kerap menyerukan perundingan damai, namun belum pernah secara terbuka mengutuk pengiriman pasukan Rusia ke Ukraina. Dukungan ekonomi dan diplomatik Beijing terhadap Moskwa disebut sejumlah analis Barat turut memperkuat keberlangsungan konflik di kawasan tersebut. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang