BEIRUT – Sedikitnya 29 orang dilaporkan tewas akibat rangkaian serangan udara Israel yang menggempur sejumlah wilayah di Lebanon selatan sepanjang malam hingga Rabu (20/05/2026). Serangan tersebut juga menyebabkan puluhan warga mengalami luka-luka, termasuk perempuan dan anak-anak yang berada di kawasan permukiman padat penduduk.
Serangan udara itu menghantam beberapa kota di wilayah selatan Lebanon dan menargetkan area permukiman warga, kawasan di sekitar rumah sakit pemerintah, hingga sebuah sepeda motor di jalan raya. Kondisi tersebut memperburuk situasi keamanan di kawasan perbatasan Lebanon-Israel yang masih dilanda ketegangan bersenjata.
Kantor berita pemerintah Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan salah satu serangan paling mematikan terjadi di Distrik Tyre, Kegubernuran Selatan, dekat perbatasan Israel. Dalam serangan itu, sebanyak 12 orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk seorang warga negara Suriah.
Di tengah eskalasi konflik, kelompok Hizbullah mengklaim pihaknya terlibat bentrokan dengan pasukan Israel di dekat Kota Haddatha, Lebanon selatan. Hizbullah juga menyebut telah menargetkan konsentrasi pasukan Israel di sejumlah titik wilayah perbatasan.
Pasukan Israel turut melakukan operasi penghancuran besar-besaran di area antara Desa Blida dan Mays al-Jabal yang memicu ledakan dahsyat dan meningkatkan kepanikan warga sekitar.
Perdana Menteri (PM) Lebanon Nawaf Salam menegaskan penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalur diplomasi dan negosiasi. Ia juga menekankan pentingnya pengendalian senjata berada di bawah otoritas negara.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon mengungkapkan serangan Israel sejak 2 Maret 2026 telah menyebabkan 3.073 orang meninggal dunia dan 9.362 lainnya terluka.
Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nasreddine menyampaikan dampak konflik turut menghancurkan sektor layanan kesehatan negara tersebut. Saat berbicara dalam Majelis Kesehatan Dunia World Health Assembly di Jenewa, ia menyebut serangan yang terus berlangsung telah menewaskan 116 tenaga kesehatan.
Selain itu, sebanyak 16 rumah sakit dilaporkan mengalami kerusakan, 147 ambulans menjadi sasaran serangan, dan 45 pusat layanan kesehatan terpaksa menghentikan operasionalnya sejak awal Maret 2026.
Konflik di kawasan itu terus berlangsung meski gencatan senjata antara Israel dan Lebanon mulai diberlakukan pada April 2026 dan telah beberapa kali diperpanjang. Namun, kedua pihak masih saling melancarkan serangan hingga saat ini, sebagaimana diberitakan Antara, Rabu (20/05/2026). []
Redaksi05

