Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Lava Pijar Meluncur 1,8 Km

Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Lava Pijar Meluncur 1,8 Km

Bagikan:

SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali memperlihatkan intensitas yang perlu diwaspadai pada Rabu (28/01/2026) pagi. Dalam laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), gunung api yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut tercatat mengalami rentetan guguran lava pijar yang mengarah ke sektor barat daya.

Periode pengamatan yang dilakukan sejak pukul 00.00 hingga 06.00 WIB menunjukkan bahwa guguran lava pijar meluncur dengan jarak maksimum mencapai 1.800 meter. Fenomena ini menandakan bahwa suplai material lava dari kubah Merapi masih berlangsung dan berpotensi menimbulkan ancaman di sepanjang alur sungai yang berhulu di puncak gunung.

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan bahwa selama kurun waktu tersebut, pihaknya mencatat setidaknya 11 kali guguran lava pijar. Guguran itu bergerak mengikuti sejumlah alur sungai yang berada di sektor barat daya Merapi.

“Teramati 11 kali guguran lava ke arah Barat Daya, meliputi Kali Sat atau Putih, Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.800 meter,” ujar Agus Budi Santoso dalam keterangan resminya.

Secara visual, kondisi puncak Gunung Merapi dilaporkan masih dapat teramati dengan cukup jelas meskipun cuaca sempat diselimuti awan. BPPTKG tidak mencatat adanya asap kawah yang keluar selama periode pengamatan. Namun demikian, aktivitas kegempaan di tubuh gunung menunjukkan dominasi gempa guguran, yang mengindikasikan adanya pergerakan material vulkanik di lereng.

Data kegempaan yang dihimpun BPPTKG mencatat sebanyak 32 kali gempa guguran dengan amplitudo berkisar antara 3 hingga 10 milimeter dan durasi terpanjang mencapai 185,7 detik. Selain itu, terdeteksi pula 19 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta dua kali gempa vulkanik dangkal. Aktivitas seismik tersebut menegaskan bahwa dinamika internal Merapi masih berlangsung aktif.

Dari sisi kondisi lingkungan, suhu udara di sekitar pos pengamatan berada pada kisaran 19,1 hingga 20,4 derajat Celsius. Tingkat kelembaban udara terpantau cukup tinggi, yakni antara 81,9 hingga 87,5 persen. Faktor cuaca ini turut menjadi perhatian, mengingat hujan dengan intensitas tinggi berpotensi memicu bahaya sekunder.

Hingga kini, status Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga. BPPTKG menekankan bahwa potensi bahaya utama yang perlu diwaspadai masyarakat adalah guguran lava dan awan panas guguran.

“Potensi bahaya guguran lava dan awan panas guguran meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer,” tegas Agus.

Selain sektor barat daya, ancaman juga mengintai wilayah tenggara Merapi. BPPTKG mencatat potensi bahaya di sepanjang Sungai Woro dengan jarak luncur hingga 3 kilometer, serta Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer.

BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan rawan bahaya tersebut. Warga yang tinggal di daerah aliran sungai juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar dingin, terutama saat hujan deras mengguyur kawasan puncak Merapi. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews