JEMBER — Dampak banjir yang melanda Dusun Kepel, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur, tidak berhenti pada kerusakan permukiman warga. Bencana yang dipicu oleh tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir itu kini memunculkan ancaman serius bagi ketahanan pangan lokal, menyusul terendamnya ratusan hektare lahan pertanian milik warga.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Kamis (15/01/2026) pagi, genangan air masih terlihat menutup area persawahan di Desa Lojejer. Air yang belum sepenuhnya surut menenggelamkan tanaman padi pada berbagai fase pertumbuhan, sehingga meningkatkan risiko kerusakan tanaman hingga potensi gagal panen.
Kepala Desa Lojejer, Mochammad Sholeh, mengatakan pemerintah desa telah melakukan langkah awal berupa pendataan dan pemetaan terhadap lahan pertanian yang terdampak banjir. Dari hasil inventarisasi sementara, sekitar 200 hektare sawah milik petani setempat terendam air.
“Kami sudah melihat langsung, dan memetakan lahan pertanian yang terdampak. Sesuai program presiden, kami upayakan meminalisir adanya gagal panen,” ungkap Sholeh.
Ia menjelaskan, wilayah Desa Lojejer memang termasuk daerah rawan banjir yang hampir setiap tahun terdampak saat intensitas hujan meningkat. Kondisi geografis serta aliran air dari kawasan hulu membuat air mudah meluap dan menggenangi persawahan serta permukiman warga.
Tidak hanya sektor pertanian yang terdampak, banjir juga merusak aktivitas warga sehari-hari. Pemerintah desa mencatat sedikitnya 300 rumah warga terdampak banjir dengan ketinggian air sempat mencapai lebih dari satu meter. Kondisi tersebut memaksa sebagian warga mengungsi sementara demi keselamatan.
“Sejak awal penanganan kami melakukan evakuasi warga, hewan ternak warga, mendata secara keseluruhan dampak, serta bahu membahu dengan RT/RW, Babinsa, dan relawan kami untuk mendistribusikan bantuan kepada warga,” imbuhnya.
Upaya tanggap darurat tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan warga sekaligus memenuhi kebutuhan dasar selama masa banjir. Bantuan logistik disalurkan secara bertahap, sementara aparat desa terus memantau perkembangan kondisi air di lapangan.
Seiring berjalannya waktu, kondisi banjir di Desa Lojejer mulai menunjukkan tanda-tanda membaik. Air perlahan surut dan sebagian warga telah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa lumpur serta memperbaiki kerusakan ringan. Aktivitas sosial dan ekonomi warga juga mulai berangsur pulih.
Meski demikian, kekhawatiran masih menyelimuti para petani. Tanaman padi yang terendam air dalam waktu cukup lama berisiko mengalami pembusukan batang dan penurunan kualitas hasil panen. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, kerugian petani dikhawatirkan akan semakin besar.
Pemerintah desa berharap adanya dukungan lebih lanjut dari pemerintah daerah dan instansi terkait, khususnya dalam bentuk pendampingan teknis pertanian pascabanjir. Bantuan benih, pupuk, serta langkah antisipasi jangka panjang dinilai penting untuk menekan potensi gagal panen dan menjaga keberlanjutan sektor pertanian di wilayah tersebut. []
Diyan Febriana Citra.

