Bener Meriah Diguncang Gempa Dangkal

Bener Meriah Diguncang Gempa Dangkal

Bagikan:

MEDAN – Aktivitas seismik kembali terjadi di wilayah Aceh. Kabupaten Bener Meriah dilaporkan mengalami guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 4,1 pada Selasa (03/02/2026) pagi. Gempa tersebut berpusat di daratan dan terjadi pada kedalaman relatif dangkal, sehingga sempat dirasakan oleh sebagian warga di sekitar wilayah episentrum.

Berdasarkan informasi awal yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut memiliki kedalaman 10 kilometer.

“Kedalaman (gempa) 10 Km,” tulis BMKG dalam akun X resminya, Selasa (03/02/2026).

Gempa terjadi pada pukul 05.38 WIB, dengan titik koordinat berada di 4,92 Lintang Utara (LU) dan 96,82 Bujur Timur (BT). Lokasi tersebut menunjukkan pusat gempa berada di wilayah daratan Kabupaten Bener Meriah, Aceh, yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan dengan aktivitas tektonik cukup aktif karena berada di jalur patahan dan pertemuan lempeng bumi.

BMKG menegaskan bahwa informasi awal yang disampaikan kepada publik merupakan hasil pengolahan data cepat untuk kebutuhan peringatan dini dan kewaspadaan masyarakat.

“Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa data gempa bersifat dinamis dan dapat mengalami pembaruan seiring masuknya data tambahan dari jaringan sensor seismik. Meski berkekuatan sedang dan tidak tergolong besar, gempa dangkal seperti ini tetap berpotensi menimbulkan kepanikan di masyarakat apabila terjadi secara tiba-tiba, terutama di wilayah permukiman padat.

Hingga berita ini disusun, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan, korban jiwa, maupun gangguan aktivitas masyarakat akibat gempa tersebut. Namun, peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan bencana di daerah rawan gempa, khususnya di wilayah Aceh yang secara historis memiliki tingkat kerawanan seismik tinggi.

Pakar kebencanaan menilai bahwa gempa dengan magnitudo relatif kecil tetap harus menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus memperkuat sistem mitigasi bencana, mulai dari kesiapan infrastruktur, jalur evakuasi, hingga edukasi publik terkait prosedur keselamatan saat gempa terjadi. Respons cepat informasi dari BMKG dinilai krusial dalam membangun kewaspadaan masyarakat sekaligus mencegah penyebaran informasi yang tidak akurat.

Selain itu, gempa ini juga menunjukkan pentingnya peran komunikasi publik dalam kebencanaan. Penyampaian informasi resmi, transparan, dan cepat dari lembaga berwenang menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sosial, menghindari kepanikan massal, serta memastikan masyarakat mendapatkan data yang dapat dipercaya.

Wilayah Aceh sendiri berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), yang menjadikannya rawan terhadap gempa bumi dan aktivitas tektonik lainnya. Oleh karena itu, setiap kejadian gempa, meskipun tidak berdampak besar, tetap memiliki nilai penting sebagai bagian dari pemetaan risiko bencana jangka panjang.

Peristiwa gempa di Bener Meriah ini menjadi pengingat bahwa upaya mitigasi tidak hanya dilakukan setelah bencana besar terjadi, tetapi harus menjadi bagian dari kebijakan pembangunan dan perencanaan wilayah secara berkelanjutan. Penguatan sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan di sekolah, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana menjadi langkah strategis untuk meminimalkan risiko di masa depan. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews