ACEH TIMUR – Upaya pemulihan pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Timur terus dikebut oleh pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Salah satu fokus utama penanganan adalah penyediaan hunian sementara bagi ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir yang melanda wilayah tersebut.
BNPB saat ini tengah membangun total 3.413 unit hunian sementara (huntara) untuk masyarakat terdampak. Langkah ini diambil menyusul hasil pendataan yang menunjukkan bahwa jumlah rumah dengan kategori rusak berat di Aceh Timur mencapai 3.843 unit. Dari total tersebut, sebagian besar masuk dalam skema pembangunan hunian sementara sebagai solusi jangka menengah sebelum hunian tetap direalisasikan.
Dewan Pengarah BNPB, Isrol Samiharjo, menyampaikan bahwa pembangunan huntara dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah. Penyerahan simbolis kunci huntara tahap pertama dilakukan di Desa Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, Jumat (16/01/2026).
“Sebanyak 2.594 unit huntara akan dibangun. Sebanyak 600 unit akan dibangun oleh BNPB sendiri,” ujar Isro saat menyerahkan simbolis kunci Hunian sementara (Huntara) tahap satu di Desa Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, Provinsi Aceh, Jumat (16/01/2026).
Isrol menjelaskan, pembangunan hunian sementara tersebut tidak sepenuhnya ditangani BNPB. Sebagian unit lainnya akan dibangun oleh pemerintah pusat melalui Danantara. Namun, hingga kini proses pembangunan oleh Danantara masih berada dalam tahap persiapan dan administrasi.
Sambil menunggu rampungnya pembangunan huntara, pemerintah juga menyiapkan skema bantuan alternatif bagi warga yang belum bersedia atau belum dapat menempati hunian sementara. Bantuan tersebut berupa Dana Tunggu Hunian (DTH) yang disalurkan secara berkala kepada keluarga terdampak.
“Khusus untuk warga yang belum bersedia menempati huntara, pemerintah menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per bulan,” kata Isrol.
Ia menambahkan bahwa proses verifikasi data penerima bantuan masih terus dilakukan guna memastikan penyaluran tepat sasaran. Hingga saat ini, ratusan data penerima telah dinyatakan valid dan sebagian di antaranya telah menerima bantuan tersebut.
“Saat ini, sebanyak 430 data penerima DTH telah dinyatakan valid, dengan 200 di antaranya telah ditransfer ke rekening penerima,” ungkapnya.
Berdasarkan hasil pendataan BNPB, Kecamatan Pante Bidari menjadi wilayah dengan jumlah rumah rusak berat paling banyak akibat banjir. Di kecamatan tersebut, tercatat 1.541 unit rumah mengalami kerusakan berat. Sementara itu, Kecamatan Rantau Peureulak berada di posisi kedua dengan 391 unit rumah rusak berat, disusul Kecamatan Serbajadi dengan 330 unit.
Isrol menegaskan bahwa pembangunan hunian sementara merupakan bagian dari tahapan penanganan darurat dan transisi menuju pemulihan permanen. Oleh karena itu, koordinasi antara BNPB dan pemerintah daerah terus diperkuat agar proses pembangunan dapat berjalan tepat waktu dan sesuai kebutuhan warga.
“Kami terus bersinergi dengan Pemerintah Aceh Timur unuk menyelesaikan hunara dan hunian tetap korban banjir,” pungkas Isro.
Pemerintah berharap, dengan tersedianya hunian sementara yang layak, para korban banjir dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih aman dan nyaman sambil menunggu realisasi pembangunan hunian tetap di wilayah masing-masing. []
Diyan Febriana Citra.

