SAMARINDA – Atmosfer persaingan papan atas Super League kian memanas menjelang laga pekan ke-19 yang akan mempertemukan Borneo FC dengan PSIM Jogjakarta di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu (01/02/2026) sore. Pertandingan ini bukan sekadar duel dua tim berbeda posisi klasemen, tetapi juga menjadi momentum penting bagi kedua kubu untuk menjaga konsistensi dan arah perjalanan musim.
Bagi tuan rumah Borneo FC, pertandingan ini menjadi peluang strategis untuk memperkuat posisi dalam persaingan gelar juara. Pesut Etam saat ini mengoleksi 40 poin dari 18 pertandingan dan datang dengan modal kemenangan tipis 1-0 atas Persis Solo di laga tandang pekan sebelumnya. Tambahan tiga poin akan membuka peluang mereka menggeser Persib Bandung dari puncak klasemen, sekaligus menekan Persija Jakarta yang kini berada di papan atas dengan raihan poin yang sangat ketat.
Di sisi lain, PSIM Jogjakarta hadir ke Samarinda membawa misi berbeda. Laskar Mataram memang berada di peringkat ketujuh klasemen, tetapi posisi tersebut belum sepenuhnya aman. Mereka datang dengan tekad memperbaiki performa setelah menelan kekalahan telak 0-3 dari Persebaya Surabaya di kandang sendiri. Laga kontra Borneo FC menjadi kesempatan untuk membalikkan tren negatif sekaligus membuktikan kapasitas mereka sebagai tim yang layak bersaing di papan atas.
Pelatih Borneo FC, Fabio Lafundes, menegaskan bahwa posisi klasemen tidak bisa dijadikan tolok ukur mutlak kekuatan lawan. Menurutnya, justru tim yang baru saja mengalami kekalahan biasanya datang dengan motivasi berlipat untuk bangkit.
“Saya tahu PSIM baru saja kalah di kandang, tapi dalam kondisi ini bisa saja mereka memiliki motivasi besar untuk bangkit. Itu yang harus kami antisipasi,” beber Lefundes melansir dari laman resmi klub Sabtu (31/01/2026).
Lafundes juga menekankan pentingnya mentalitas dan konsistensi permainan, terlebih karena laga digelar di hadapan pendukung sendiri. Dukungan suporter di Stadion Segiri diharapkan menjadi energi tambahan bagi para pemain.
“Kami harus bisa memetik poin maksimal di depan pendukung sendiri. Pemain harus bekerja keras memberikan penampilan terbaik,” tegas Lefundes.
Selain aspek mental dan taktik, laga ini juga menjadi ujian adaptasi bagi para pemain baru Borneo FC yang direkrut pada putaran kedua Super League. Tercatat enam pemain anyar bergabung, yakni Marcos Astina, Ardi Idrus, Mohammad Khanafi, Koldo Obieta, Cleylton Santos, dan Kaio Nunes. Beberapa di antaranya sudah mendapat menit bermain, sementara lainnya masih dalam proses penyesuaian.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah Kaio Nunes, pemain asal Brasil yang baru bergabung di pertengahan musim. Dengan jadwal pertandingan yang padat dan level persaingan yang tinggi, proses adaptasi menjadi tantangan tersendiri.
“Dia datang di pertengahan musim tentu ini menuntut dirinya untuk segera beradaptasi dengan tim. Semoga dia bisa beradaptasi dengan cepat,” harap Lefundes.
Dari perspektif kompetisi, pertandingan ini bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga soal pesan psikologis kepada para pesaing di papan atas. Jika Borneo FC mampu meraih kemenangan, tekanan akan berpindah ke tim-tim lain dalam perebutan posisi puncak. Sebaliknya, jika PSIM mampu mencuri poin di Samarinda, mereka akan mengirim sinyal kuat bahwa Laskar Mataram layak diperhitungkan sebagai kuda hitam musim ini.
Dengan kepentingan besar di kedua kubu, laga di Stadion Segiri diprediksi berlangsung ketat, sarat tensi, dan penuh determinasi. Borneo FC membawa ambisi mengamankan dominasi kandang, sementara PSIM Jogjakarta datang dengan tekad bangkit dan membalikkan momentum. []
Diyan Febriana Citra.

