GORONTALO – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Gorontalo memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi wabah penyakit menular melalui evaluasi respons awal Kejadian Luar Biasa (KLB) serta sosialisasi program Catch Up Campaign (CUC) campak. Kegiatan tersebut digelar di Aula Kantor Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo pada Jumat (13/03/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pejabat dan tenaga kesehatan, termasuk Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Erni Nuraini Mansur. Dalam kegiatan itu, Anang menekankan pentingnya penguatan mekanisme Early Action Review (EAR) sebagai bagian dari sistem deteksi dini dan respons cepat terhadap kemungkinan terjadinya KLB di daerah.
Menurutnya, penanganan awal terhadap kejadian luar biasa harus dilakukan secara bertahap mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga tingkat provinsi. Mekanisme tersebut dianggap penting agar setiap potensi wabah dapat segera teridentifikasi serta ditangani secara terkoordinasi.
Anang juga menyoroti perlunya optimalisasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang mengacu pada standar global. Sistem tersebut mengadopsi konsep 7-1-7, yakni deteksi kasus dalam waktu tujuh hari, pelaporan dalam satu hari, serta respons penanggulangan dalam tujuh hari.
“Kunci utama dalam pengendalian wabah adalah kecepatan dan ketepatan. Dengan menerapkan evaluasi EAR berbasis konsep 7-1-7, kita ingin memastikan setiap notifikasi KLB langsung diikuti dengan tindakan nyata yang terukur. Kita tidak hanya bekerja cepat, tetapi juga bekerja cerdas dengan mengevaluasi setiap tantangan yang ada, sehingga respon awal ke depan semakin solid dalam melindungi kesehatan masyarakat Gorontalo,” tegas Anang, sebagaimana dilansir Dinkes P2KB, Jumat, (13/03/2026).
Selain evaluasi respons awal, forum tersebut juga membahas mekanisme Intra Action Review (IAR) yang dilakukan selama proses penanganan kejadian berlangsung serta After Action Review (AAR) sebagai evaluasi setelah kejadian selesai. Rangkaian evaluasi tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi berbagai praktik baik atau best practices yang dapat dijadikan referensi dalam menghadapi ancaman kesehatan di masa mendatang.
Dalam kesempatan itu, Anang juga menekankan pentingnya sosialisasi program Catch Up Campaign campak sebagai upaya percepatan peningkatan cakupan imunisasi. Program ini ditujukan bagi anak-anak yang belum memperoleh imunisasi lengkap atau bahkan belum pernah menerima imunisasi campak.
Ia menjelaskan bahwa sosialisasi ini bertujuan menyamakan pemahaman seluruh tenaga kesehatan agar strategi pelaksanaan di lapangan dapat berjalan efektif serta tepat sasaran. Dengan demikian, diharapkan kekebalan kelompok atau herd immunity di masyarakat dapat terbentuk secara optimal.
“Melalui sosialisasi Catch Up Campaign (CUC) Campak ini, target kita adalah memastikan tidak ada satu pun anak di Gorontalo yang terlewatkan dari perlindungan imunisasi. Kita harus memperkuat kekebalan kelompok secara optimal. Saya meminta seluruh petugas kesehatan memiliki pemahaman strategi yang sama agar langkah teknis di lapangan efektif dalam memutus rantai penularan campak hingga ke tingkat nasional,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa penguatan respons cepat terhadap KLB sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam memperkuat langkah promotif dan preventif di sektor kesehatan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program, seperti peningkatan cakupan imunisasi, penguatan kewaspadaan dini terhadap penyakit menular, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam mendeteksi dan merespons potensi wabah secara cepat.
Melalui kegiatan ini, Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo berharap koordinasi lintas program serta antar tingkat pelayanan kesehatan dapat semakin solid sehingga daerah memiliki kesiapsiagaan yang lebih kuat dalam mencegah dan mengendalikan penyakit menular secara berkelanjutan. []
Diyan Febriana Citra.

