KUPANG — Aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menunjukkan kecenderungan meningkat dan menjadi perhatian serius petugas pemantauan. Dalam laporan terbarunya, Pos Pemantau Gunung Ile Lewotolok mencatat lonjakan jumlah erupsi harian yang cukup signifikan, menandakan dinamika magma di dalam gunung masih aktif dan berpotensi memengaruhi wilayah sekitarnya.
Petugas Pos Pemantau Gunung Ile Lewotolok melaporkan bahwa dalam kurun waktu satu hari, aktivitas letusan gunung tersebut tercatat mencapai ratusan kali. Data ini diperoleh dari hasil pemantauan kegempaan dan visual yang dilakukan secara berkelanjutan selama 24 jam penuh.
“Cukup intensif letusan di puncak Gunung Ile Lewotolok, dimana dari catatan yang didapat terhitung sejak 00.00 WITA hingga 24.00 WITA (Selasa 13/01/2026) terdapat 341 kali letusan,” kata Pengamat Pos Pemantau Gunung Ile Lewotolok Stanislaus Ara Kian di Kupang, Rabu (14/01/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Stanislaus saat dikonfirmasi mengenai laporan harian aktivitas gunung yang hingga kini masih berada pada status Waspada atau Level II. Status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih berada di atas kondisi normal, meskipun belum mengarah pada erupsi besar.
Jika dibandingkan dengan hari sebelumnya, terjadi peningkatan yang cukup mencolok. Pada Senin (12/01/2026), jumlah letusan yang tercatat hanya sebanyak 281 kali. Kenaikan ini memperkuat indikasi bahwa Gunung Ile Lewotolok tengah berada dalam fase aktivitas yang lebih intens.
Menurut Stanislaus, peningkatan aktivitas ini bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Ia menjelaskan bahwa tren erupsi dengan intensitas sedang telah mulai teramati sejak awal Januari.
Stanislaus menambahkan intensitas erupsi yang semakin meningkat itu mulai terjadi sejak 4 Januari 2026, dimana dimulainya erupsi dengan intensitas sedang di puncak gunung itu.
Secara visual, ratusan letusan tersebut disertai dengan semburan abu vulkanik yang teramati keluar dari kawah utama. Tinggi kolom abu bervariasi, namun cukup jelas terlihat dari pos pengamatan.
Lebih lanjut, kata dia, secara visual 341 kali letusan tersebut disertai dengan tinggi abu yang mencapai 200 hingga 350 meter dan berwarna asap putih dan kelabu.
Kondisi ini mendorong pihak pos pemantau untuk kembali menegaskan sejumlah rekomendasi keselamatan bagi masyarakat. Aktivitas erupsi yang berulang berpotensi menimbulkan bahaya, baik berupa lontaran material vulkanik, hujan abu, maupun aliran lahar, terutama saat hujan turun di kawasan puncak.
Dengan semakin tingginya intensitas letusan atau erupsi di gunung tersebut, pihaknya mengeluarkan rekomendasi kepada masyarakat. Beberapa rekomendasi yang dikeluarkan yakni masyarakat di sekitar Gunung Ile Lewotolok maupun pengunjung, pendaki, dan wisatawan diminta untuk tidak memasuki serta tidak melakukan aktivitas di dalam radius dua kilometer dari pusat aktivitas gunung.
“Serta tidak melintas di sektoral selatan dan tenggara, dan barat, sejauh 2,5 km dari pusat aktivitas Gunung Ile Lewotolok,” ujar dia.
Petugas pemantauan juga mengingatkan masyarakat agar terus mengikuti perkembangan informasi resmi dari pihak berwenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat setempat terus dilakukan untuk memastikan kesiapsiagaan warga tetap terjaga di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Ile Lewotolok. []
Diyan Febriana Citra.

