MAGELANG — Upaya pemulangan jenazah pendaki Gunung Slamet, Syafiq Ridhan Ali Razan (18), kembali dilanjutkan oleh tim SAR gabungan pada Kamis (15/01/2026). Evakuasi dilakukan dengan metode estafet menyusul kondisi medan yang ekstrem dan cuaca yang tidak bersahabat di kawasan gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.
Keputusan menggunakan metode estafet diambil setelah upaya pengangkatan jenazah pada hari sebelumnya belum membuahkan hasil maksimal. Jalur yang sempit, berbatu, serta kemiringan medan yang curam menjadi tantangan utama bagi tim penyelamat. Selain itu, hujan deras disertai angin kencang turut memperbesar risiko keselamatan petugas di lapangan.
Dalam proses evakuasi ini, tim SAR gabungan melibatkan sejumlah unsur, termasuk relawan Wanadri, petugas SAR, dan unsur pendukung lainnya. Mereka mempersiapkan peralatan khusus berupa tandu basket (basket stretcher) yang dirancang untuk membawa jenazah melintasi jalur pendakian yang sulit dijangkau.
“Proses evakuasi akan dilakukan secara estafet, melalui jalur Pos Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang,” ujar anggota relawan Tim Wanadri Arie Afandi, Kamis, 15 Januari 2026.
Jenazah Syafiq ditemukan pada Rabu (14/01/2026) di jalur punggungan Gunung Malang, tepatnya di sekitar area Batu Watu Langgar. Lokasi tersebut dikenal memiliki kontur medan yang terjal dan minim jalur aman, sehingga menyulitkan proses evakuasi. Penemuan tersebut mengakhiri pencarian panjang yang telah berlangsung selama 17 hari sejak korban dilaporkan hilang kontak.
Syafiq diketahui merupakan siswa SMA Negeri 5 Magelang. Sejak dinyatakan hilang, proses pencarian melibatkan puluhan personel yang harus menghadapi berbagai kendala alam, mulai dari kabut tebal, hujan badai, hingga suhu ekstrem khas kawasan pegunungan.
Saat pertama kali ditemukan, tim Wanadri dan SAR langsung melakukan penanganan awal terhadap jenazah dengan membungkusnya menggunakan kain berwarna hijau. Namun, kondisi cuaca yang semakin memburuk memaksa tim untuk menunda proses evakuasi dan mundur sementara ke pos Operation Support Command (OSC).
Penarikan sementara tersebut dilakukan demi keselamatan seluruh personel. Dari pos OSC, tim kemudian menyusun ulang strategi evakuasi dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, jalur yang akan dilalui, serta kesiapan logistik dan personel. Koordinasi lintas instansi juga terus dilakukan agar proses evakuasi dapat berjalan lancar dan aman.
Metode estafet dipandang sebagai langkah paling memungkinkan dalam situasi ini. Dengan cara tersebut, jenazah akan dipindahkan secara bergantian dari satu titik ke titik berikutnya oleh tim yang berbeda, sehingga beban fisik dapat dibagi dan risiko kelelahan dapat diminimalkan.
Evakuasi diharapkan dapat selesai dalam waktu yang ditentukan apabila kondisi cuaca mendukung. Namun demikian, tim SAR tetap menegaskan bahwa keselamatan petugas menjadi prioritas utama, mengingat medan Gunung Slamet dikenal memiliki tingkat risiko tinggi, terutama pada musim hujan.
Dengan dilanjutkannya proses evakuasi ini, diharapkan jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan dapat segera dibawa turun dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan secara layak. Pihak keluarga dan masyarakat pun terus menaruh harapan besar agar proses evakuasi berjalan lancar tanpa hambatan berarti. []
Diyan Febriana Citra.

