Fakta Baru Kasus Mutilasi Samarinda, Ada Saksi Kunci di Bawah Umur

Fakta Baru Kasus Mutilasi Samarinda, Ada Saksi Kunci di Bawah Umur

Bagikan:

SAMARINDA – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Samarinda mengungkap perkembangan terbaru kasus pembunuhan disertai mutilasi yang terjadi di Jalan Gunung Pelanduk, Kelurahan Sempaja Utara, dengan menetapkan seorang perempuan berinisial R (56) sebagai pihak yang diduga merancang seluruh aksi, sementara tersangka J alias W (53) berperan sebagai pelaku utama di lapangan.

Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (21/03/2026) dini hari sekitar pukul 02.30 Wita, bertepatan dengan momen Idulfitri 1447 Hijriah. Korban berinisial Suimih (35) diduga menjadi sasaran pembunuhan yang dilatarbelakangi rasa sakit hati serta keinginan menguasai barang milik korban.

Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Samarinda Hendri Umar menyampaikan, kedua tersangka berhasil diamankan kurang dari 24 jam setelah kejadian. Dalam penyelidikan, polisi juga menemukan fakta bahwa tidak ada hubungan khusus antara kedua tersangka, meski sempat muncul dugaan tersebut.

“Itu masih terus didalami. Kalau hingga saat ini dua-duanya masih menyampaikan tidak ada hubungan spesial. Tuduhan dari korban kalau mereka berhubungan itu belum ada,” ujar Hendri, sebagaimana dilansir Kaltimpost, Rabu (25/03/2026).

Menurut dia, hubungan antara J dan R sejauh ini hanya sebatas saling mengenal. R diketahui berperan mempertemukan korban dengan suami siri korban sebelum peristiwa terjadi.

“Yang mengenalkan korban dengan suami siri ini adalah ibu R. Mak comblang,” jelasnya.

Dalam pengungkapan kasus ini, polisi juga mengamankan dua saksi kunci yang masih di bawah umur dan merupakan cucu dari tersangka R. Keduanya disebut melihat langsung kejadian penganiayaan yang dilakukan J terhadap korban.

“Saksi yang kami dapatkan dua orang dan sudah menjadi saksi kunci. Kemudian ada saksi-saksi dari warga sekitar yang juga telah kami periksa,” papar Hendri.

Hasil penyelidikan sementara menunjukkan bahwa R diduga menjadi otak perencanaan, mulai dari menyiapkan lokasi hingga menentukan cara menghilangkan jejak.

“Si ibu itu otaknya. Dia yang menyusun rencana, menyiapkan tempat eksekusi, menentukan pembuangan, hingga peralatan mutilasi,” ucap Hendri.

Polisi menyebut motif utama pembunuhan didorong rasa sakit hati terhadap korban, disertai keinginan menguasai sepeda motor dan telepon genggam milik korban.

“Motif sampai sekarang masih sakit hati. Juga ingin menguasai motor dan handphone korban,” tegasnya.

Selain mengusut tuntas kasus, Polresta Samarinda juga meningkatkan pengamanan di sejumlah wilayah, terutama kawasan perumahan yang ditinggal mudik, lokasi wisata, serta bantaran Sungai Mahakam guna mencegah potensi kejahatan serupa.

“Tempat-tempat lain yang punya karakteristik khusus pasti juga ada peningkatan eskalasi semuanya,” tutup Hendri. []

Redaksi05

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews Kriminal