Gempa 5,0 Magnitudo Guncang Bolsel, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa 5,0 Magnitudo Guncang Bolsel, Tak Berpotensi Tsunami

Bagikan:

BOLAANG MONGONDOW SELATAN — Wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara, kembali diguncang gempa bumi pada Senin (19/01/2026) dini hari. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut memiliki kekuatan 5,0 magnitudo dan terjadi pada pukul 00.53 WIB atau sekitar pukul 01.53 Wita.

BMKG mencatat pusat gempa berada di laut, dengan koordinat 0,12 Lintang Selatan dan 124,68 Bujur Timur. Lokasi episenter diperkirakan berjarak sekitar 94 kilometer dari Kecamatan Bolaang Uki, ibu kota Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Sementara itu, gempa tercatat memiliki kedalaman 10 kilometer, yang tergolong dangkal dan berpotensi dirasakan oleh masyarakat di sekitar wilayah pesisir.

Meski demikian, BMKG memastikan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Pernyataan ini disampaikan berdasarkan hasil pemodelan cepat yang dilakukan segera setelah gempa terdeteksi oleh jaringan seismograf nasional. Hingga beberapa jam setelah kejadian, tidak ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut.

Sejumlah warga di wilayah Bolaang Mongondow Selatan dan daerah sekitarnya mengaku merasakan getaran dengan intensitas ringan hingga sedang. Getaran gempa dirasakan berlangsung singkat, namun cukup membuat sebagian warga terbangun dari tidur dan keluar rumah untuk memastikan kondisi lingkungan sekitar. Aparat desa dan pihak berwenang setempat segera melakukan pemantauan lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan dampak lanjutan.

Gempa bumi yang terjadi di wilayah Sulawesi Utara bukanlah peristiwa yang terbilang langka. Secara geologis, kawasan ini berada di jalur pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif, antara lain Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Filipina. Kondisi tersebut menjadikan wilayah Sulawesi Utara, termasuk Bolaang Mongondow Selatan, rawan terhadap aktivitas seismik.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga juga diminta untuk terus mengikuti perkembangan informasi resmi yang disampaikan melalui kanal komunikasi BMKG maupun pemerintah daerah setempat. Selain itu, masyarakat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah pesisir dan daerah rawan gempa.

Dalam situasi seperti ini, kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko bencana. Masyarakat diharapkan memahami langkah-langkah penyelamatan diri saat gempa terjadi, seperti berlindung di bawah struktur yang kuat, menjauhi bangunan yang berpotensi runtuh, serta segera menuju area terbuka apabila berada di luar ruangan. Pemerintah daerah juga didorong untuk terus memperkuat edukasi kebencanaan kepada warga.

BMKG menegaskan bahwa aktivitas gempa susulan masih mungkin terjadi, meskipun dengan kekuatan yang lebih kecil. Oleh karena itu, pemantauan aktivitas seismik di wilayah Sulawesi Utara akan terus dilakukan secara intensif. Koordinasi antara BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta aparat setempat juga terus dijaga untuk memastikan kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk.

Peristiwa gempa ini kembali menjadi pengingat pentingnya kesadaran kolektif terhadap potensi bencana alam di Indonesia, negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Dengan kesiapsiagaan yang baik dan informasi yang akurat, dampak gempa bumi diharapkan dapat diminimalkan. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews