Gempa Dangkal Guncang Bandung, Sumedang, dan Pangandaran

Gempa Dangkal Guncang Bandung, Sumedang, dan Pangandaran

Bagikan:

BANDUNG – Aktivitas seismik kembali terjadi di wilayah Jawa Barat pada Jumat (30/01/2026) dini hari hingga pagi, setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya gempa bumi dangkal yang mengguncang sejumlah daerah, termasuk Pangandaran, Sumedang, dan Kota Bandung. Peristiwa ini memicu kewaspadaan masyarakat, meski hingga kini belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa.

Berdasarkan data resmi BMKG, gempa pertama terjadi di wilayah Kabupaten Pangandaran pada pukul 04.56 WIB. Episentrum gempa berada di laut, sekitar 124 kilometer barat daya Pangandaran, dengan kedalaman mencapai 50 kilometer. Meski tergolong gempa berkedalaman menengah, getaran dilaporkan tidak menimbulkan dampak signifikan di wilayah daratan.

Tak lama berselang, aktivitas gempa kembali tercatat di wilayah Kabupaten Sumedang pada pukul 05.13 WIB. Gempa ini berpusat di darat, tepatnya sekitar 14 kilometer barat daya Sumedang, dengan kedalaman hanya 5 kilometer. Kedalaman yang relatif dangkal membuat guncangan lebih terasa oleh warga di sekitar pusat gempa, meskipun tidak disertai laporan kerusakan bangunan maupun gangguan infrastruktur.

Pada waktu yang hampir bersamaan, gempa juga tercatat mengguncang Kota Bandung. Masih pada pukul 05.13 WIB, BMKG melaporkan pusat gempa berada di darat, sekitar 16 kilometer timur Kota Bandung, dengan kedalaman 5 kilometer. Lokasi yang berada di daratan serta kedalaman yang dangkal menjadikan gempa ini termasuk kategori gempa dangkal, yang secara karakteristik lebih mudah dirasakan oleh masyarakat.

Rangkaian gempa yang terjadi dalam waktu berdekatan ini menunjukkan adanya aktivitas tektonik yang cukup aktif di wilayah Jawa Barat, yang memang berada di zona rawan gempa akibat pertemuan lempeng tektonik dan keberadaan sejumlah sesar aktif. Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat laporan mengenai dampak kerusakan, korban luka, maupun gangguan layanan publik akibat peristiwa tersebut.

Situasi ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana gempa bumi, khususnya di daerah-daerah yang berada di jalur seismik aktif. Wilayah Jawa Barat sendiri dikenal memiliki sejumlah patahan aktif, seperti Sesar Lembang dan Sesar Cimandiri, yang berpotensi memicu gempa dangkal dengan dampak lokal yang signifikan.

Pakar kebencanaan selama ini menekankan bahwa gempa dangkal, meskipun bermagnitudo kecil hingga menengah, tetap berisiko menimbulkan kerusakan apabila terjadi di dekat permukiman padat penduduk. Oleh karena itu, edukasi kebencanaan, kesiapan bangunan tahan gempa, serta sistem peringatan dini menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko.

Hingga berita ini diturunkan, BMKG masih terus melakukan pemantauan aktivitas seismik di wilayah Jawa Barat. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait. Pemerintah daerah juga diminta untuk meningkatkan koordinasi kesiapsiagaan bencana, terutama di wilayah yang berada dekat dengan pusat-pusat aktivitas gempa.

Meski tidak menimbulkan dampak langsung, rangkaian gempa ini menjadi peringatan bahwa potensi bencana alam tetap ada dan membutuhkan kesiapan bersama, baik dari pemerintah maupun masyarakat, dalam menghadapi kemungkinan terburuk di masa mendatang. []

Diyan Febriana Citra.

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews