DONGGALA – Aktivitas kegempaan kembali tercatat di wilayah Sulawesi Tengah. Pada Jumat (13/02/2026) pagi, getaran gempa dirasakan warga Kabupaten Donggala dan sekitarnya. Peristiwa tersebut terjadi pukul 09.06 WITA dengan magnitudo 4,1.
Informasi resmi disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Pelaksana Tugas Kepala BBMKG Wilayah IV, Nasrol Adil. Ia menjelaskan bahwa gempa tersebut tergolong gempa dangkal.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Palu Koro,” jelas Nasrol saat dikonfirmasi di Palu, Jumat (13/02/2026).
Secara teknis, BMKG mencatat pusat gempa berada pada koordinat 0,05 derajat Lintang Selatan dan 119,62 derajat Bujur Timur. Episenter terletak di laut, sekitar 48 kilometer arah barat laut Donggala. Kedalaman hiposenter tercatat 10 kilometer, yang menyebabkan getaran cukup terasa di permukaan meski tidak berpotensi besar menimbulkan kerusakan signifikan.
Guncangan dirasakan warga di wilayah Donggala dengan intensitas II-III MMI. Pada skala tersebut, getaran umumnya dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seperti ada kendaraan berat melintas. Sejumlah warga melaporkan getaran singkat yang membuat sebagian orang keluar rumah untuk memastikan kondisi sekitar.
“Berdasarkan estimasi peta guncangan dan laporan masyarakat, gempa bumi ini menimbulkan guncangan di Donggala dengan skala intensitas II-III MMI,” tuturnya.
Hingga laporan ini disampaikan, belum terdapat informasi mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa. Aparat setempat dan BPBD masih melakukan pemantauan untuk memastikan situasi tetap aman. Kondisi masyarakat secara umum dilaporkan kondusif.
BMKG juga mencatat adanya satu kali gempa susulan setelah gempa utama terjadi. Magnitudo gempa susulan tersebut lebih kecil dibandingkan gempa pertama.
“Untuk hasil monitoring secara berkala BMKG, terdapat satu kali gempa bumi susulan dengan magnitudo 2,7,” tambah Nasrol.
Keberadaan Sesar Palu Koro memang dikenal sebagai salah satu sumber aktivitas tektonik aktif di Sulawesi Tengah. Sesar ini memiliki karakter pergerakan geser yang berpotensi memicu gempa dangkal. Karena itu, wilayah di sekitar jalur sesar tetap dikategorikan rawan gempa dan memerlukan kesiapsiagaan berkelanjutan.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta tetap tenang namun waspada, terutama terhadap kemungkinan gempa susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Hati-hati terhadap gempabumi susulan yang mungkin terjadi,” pungkasnya.
Selain itu, masyarakat diingatkan untuk memastikan bangunan tempat tinggal memenuhi standar ketahanan gempa. Edukasi mitigasi bencana juga dinilai penting agar warga mengetahui langkah yang harus dilakukan saat terjadi gempa, seperti berlindung di tempat aman dan menjauhi bangunan yang berpotensi runtuh.
Peristiwa gempa ini kembali menjadi pengingat bahwa wilayah Sulawesi Tengah berada di kawasan cincin api yang aktif secara geologis. Pemantauan intensif oleh BMKG terus dilakukan guna memberikan informasi cepat dan akurat kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana. []
Diyan Febriana Citra.

