BANDA ACEH – Aktivitas tektonik kembali terasa di wilayah barat Provinsi Aceh setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,2 mengguncang Kabupaten Aceh Jaya, Rabu (25/02/2026) pagi. Meski tidak menimbulkan kerusakan maupun korban jiwa, peristiwa tersebut sempat mengejutkan warga dan menjadi pengingat akan tingginya potensi kegempaan di kawasan tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, gempa terjadi sekitar pukul 10.18 WIB. Pusat gempa berada pada koordinat 4,79 derajat Lintang Utara dan 95,6 derajat Bujur Timur, atau sekitar 17 kilometer di utara Calang. Gempa tercatat berada pada kedalaman 53 kilometer dan berpusat di daratan, sehingga dikategorikan sebagai gempa dangkal yang masih dapat dirasakan oleh masyarakat di sekitar episentrum.
Kepala Stasiun Geofisika Aceh Besar BMKG, Andi Azhar Rusdin, menjelaskan bahwa gempa tersebut dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng yang memang aktif di wilayah barat Aceh. Kondisi geologis ini menjadikan Aceh sebagai salah satu daerah dengan tingkat kerawanan gempa yang cukup tinggi.
“Berdasarkan laporan dari masyarakat, gempa bumi ini dirasakan di daerah Lamno dengan skala intensitas II-III MMI,” kata Kepala Stasiun Geofisika Aceh Besar Andi Azhar Rusdin dalam keterangannya.
Skala II–III Modified Mercalli Intensity (MMI) menunjukkan bahwa getaran dirasakan oleh sebagian orang, terutama yang berada di dalam bangunan, namun belum cukup kuat untuk menyebabkan kerusakan struktural. Sejumlah warga mengaku merasakan getaran singkat seperti guncangan ringan pada perabot rumah, namun situasi segera kembali normal setelah gempa berlalu.
BMKG mencatat bahwa hingga pukul 10.45 WIB, belum terdeteksi adanya gempa susulan. Hasil pemantauan ini memberikan kepastian awal bahwa gempa tersebut tidak berkembang menjadi rangkaian aktivitas seismik yang lebih besar. Meski demikian, BMKG tetap meminta masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan memahami langkah-langkah mitigasi bencana secara mandiri.
Menurut Andi Azhar Rusdin, masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tetap beraktivitas seperti biasa. Ia juga mengingatkan agar warga tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya, terutama yang beredar melalui media sosial.
Wilayah Aceh dikenal berada di jalur pertemuan lempeng tektonik aktif, sehingga kejadian gempa bumi merupakan fenomena alam yang relatif sering terjadi. Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait terus mendorong penguatan edukasi kebencanaan kepada masyarakat, termasuk pemahaman tentang jalur evakuasi, titik kumpul, serta respons cepat saat terjadi gempa.
Peristiwa gempa di Aceh Jaya kali ini menjadi momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan. Meskipun tidak berdampak besar, setiap gempa memiliki potensi risiko yang harus diantisipasi secara serius. BMKG menegaskan akan terus memantau aktivitas seismik di wilayah Aceh dan menyampaikan informasi secara berkala kepada masyarakat. []
Diyan Febriana Citra.

