TAHUNA – Aktivitas seismik kembali terjadi di wilayah perairan Sulawesi Utara. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,3 mengguncang kawasan sekitar Kota Tahuna, Kepulauan Sangihe, pada Kamis (29/01/2026) dini hari. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut sehingga getarannya berpotensi dirasakan di sejumlah wilayah pesisir.
BMKG mencatat gempa terjadi pada pukul 02.45 WIB dengan kedalaman 51 kilometer. Lokasi episentrum berada di titik koordinat 6,19 lintang utara (LU) dan 123,81 bujur timur (BT). Informasi tersebut menunjukkan bahwa pusat gempa berada cukup jauh dari daratan, namun masih berada dalam wilayah pengaruh administratif Kepulauan Sangihe.
Dalam keterangan singkat yang disampaikan melalui akun resmi media sosial, BMKG menuliskan, “342 km barat laut Tahuna-Kep.Sangihe-Sulut,” tulis @infoBMKG. Data tersebut menjadi rujukan awal bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk memetakan posisi pusat gempa serta potensi dampak yang mungkin ditimbulkan.
Hingga laporan ini disusun, belum ada informasi resmi mengenai kerusakan bangunan, korban jiwa, maupun gangguan aktivitas masyarakat akibat peristiwa tersebut. Aparat setempat dan pihak terkait masih melakukan pemantauan, terutama untuk memastikan kondisi wilayah pesisir dan permukiman yang berada di sekitar zona getaran.
BMKG juga mengingatkan bahwa informasi awal gempa bersifat sementara dan dapat mengalami pembaruan seiring dengan masuknya data tambahan dari berbagai stasiun pemantau seismik.
“Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,” lanjut BMKG.
Secara geografis, Kepulauan Sangihe memang berada di kawasan rawan gempa karena terletak pada jalur pertemuan lempeng tektonik aktif. Kondisi ini menjadikan wilayah tersebut cukup sering mengalami aktivitas seismik dengan berbagai skala kekuatan, mulai dari gempa kecil hingga menengah. Meski sebagian besar gempa tidak menimbulkan dampak besar, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir dan perbukitan.
Pakar kebencanaan menilai bahwa gempa dengan kedalaman menengah seperti ini umumnya tidak berpotensi tsunami, tetapi tetap dapat menimbulkan guncangan yang terasa di daratan, terutama jika pusat gempa relatif dekat dengan wilayah permukiman. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan terus memperkuat sistem peringatan dini, jalur komunikasi informasi bencana, serta edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Langkah ini penting agar warga tidak panik, namun tetap sigap dan mengetahui prosedur penyelamatan diri jika terjadi gempa susulan.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga diminta hanya mengakses informasi resmi dari sumber terpercaya seperti BMKG dan instansi pemerintah terkait.
Peristiwa gempa di perairan Kepulauan Sangihe ini kembali menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di kawasan rawan bencana geologi. Kesiapsiagaan, literasi kebencanaan, serta sistem mitigasi yang kuat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko dan dampak yang mungkin timbul akibat aktivitas seismik. []
Diyan Febriana Citra.

