MALUKU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa bumi yang terjadi di wilayah Laut Banda, Maluku, pada Selasa (13/01/2026) pagi tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Gempa tersebut tercatat berkekuatan Magnitudo 5,3 dan terjadi pada pukul 05.59 WIB, saat sebagian besar warga masih beraktivitas pagi hari.
Berdasarkan hasil analisis awal BMKG, pusat gempa berada di kedalaman 50 kilometer. Episenter gempa terletak pada koordinat 7,81 derajat Lintang Selatan dan 128,97 derajat Bujur Timur, atau sekitar 136 kilometer arah timur laut Maluku Barat Daya. Lokasi gempa berada di wilayah perairan, sehingga tidak secara langsung berdampak pada kawasan permukiman padat penduduk.
BMKG menjelaskan bahwa gempa tersebut tergolong sebagai gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas deformasi batuan pada slab Banda. Wilayah Laut Banda memang dikenal sebagai salah satu zona seismik aktif di Indonesia karena berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik. Kondisi geologis tersebut membuat kawasan ini kerap mengalami aktivitas gempa bumi dengan beragam kekuatan.
Dari hasil pemantauan intensitas guncangan, getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah dengan tingkat berbeda-beda. Di Kabupaten Maluku Barat Daya, gempa dirasakan dengan skala intensitas IV MMI, yang ditandai dengan getaran cukup kuat dan dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah. Sementara itu, di wilayah Mndona Hiera, Maluku Barat Daya, intensitas guncangan tercatat pada skala III MMI, sedangkan di Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, getaran berada pada kisaran II hingga III MMI.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa karakteristik gempa ini memiliki mekanisme pergerakan geser naik.
“Berdasarkan estimasi peta guncangan, gempa ini menimbulkan guncangan di daerah Maluku Barat Daya dengan skala intensitas IV MMI, daerah Mndona Hiera, Maluku Barat Daya dengan skala intensitas III MMI dan daerah Amahai, Maluku Tengah dengan skala intensitas II – III MMI,” ujar Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, Selasa (13/01/2026).
Hingga laporan ini disusun, BMKG belum menerima informasi terkait adanya kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut. Meski demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, terutama isu gempa susulan atau potensi tsunami yang tidak berdasar.
BMKG juga memastikan bahwa hasil pemodelan gempa menunjukkan peristiwa ini tidak berpotensi tsunami. Kendati demikian, masyarakat di wilayah pesisir tetap diingatkan untuk memahami jalur evakuasi dan prosedur keselamatan sebagai langkah mitigasi bencana jangka panjang.
Sebagai lembaga resmi yang berwenang dalam pemantauan aktivitas gempa bumi di Indonesia, BMKG terus melakukan pemantauan lanjutan serta pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diimbau untuk selalu mengakses informasi resmi melalui kanal komunikasi BMKG guna memperoleh data yang akurat dan terpercaya. []
Diyan Febriana Citra.

